BATAM (HK) - Jejak peninggalan kehidupan orang-orang terdahulu di Kota Batam, masih bisa ditemui di sejumlah tempat. Salah satunya ada di Dapur 12 Pantai di Kelurahan Seipelunggut, Kecamatan Sagulung yang sekarang dikenal dengan Kampung Tua Dapur 12. Daerah ini, dulu sempat menjadi sumber utama produksi arang di Batam.
Sayang, kondisinya saat ini kian tak terurus. Bahkan, dari 12 dapur arang yang ada di lokasi, sekarang yang tersisa hanya dua dapur. Itu pun kondisinya sangat memprihatinkan.
"Benar-benar memprihatinkan. Satu per satu "monumen" sejarah Kampung Tua di Batam lenyap tergusur kepentingan bisnis. Dapur 12 salah satunya, kini hanya sekedar label trayek di kaca depan angkot Bimbar jurusan Nongsa-Jodoh-Dapur 12. Sebab, yang tersisa dan masih bertahan hingga kini hanya dua dapur," kata beberapa warga Batam ketika dimintai komentarnya kemarin.
Dapur adalah penyebutan paling akrab oleh masyarakat Batam sejak dulu. Bangunan dapur ini bukanlah untuk memasak atau dapur dalam artian sebenarnya. Dapur ini adalah untuk menghasilkan arang berkualitas, berbentuk unduk-undukan dari tanah. Memiliki tinggi sekitar empat meter, seperti setengah bulatan yang diameternya mencapai lima meter. Dinding dapur arang ini memiliki ketebalan sekitar setengah meter.
Tidak ada ukuran standar atas dapur arang yang dibuat untuk memproduksi arang-arang ekspor ini. Tergantung kebutuhan dan hasil produk arang yang diinginkan. Yang penting mampu membakar kayu dengan panas yang maksimal dalam ruang tertutup, seperti gua.
Untuk memproduksi arang, di salah satu sisi dapur dibuat lubang berukuran sekitar 70 cm dan lebar 30 cm. Lubang ini berfungsi untuk memasukkan kayu yang akan dibakar dan mengeluarkan arang yang telah matang.
Saat ini, tinggal tersisa dua dapur dari 12 dapur arang di kawasan itu. Padahal jumlah dapur arang sebanyak 12 waktu itu, menjadi dasar penamaan kawasan tersebut menjadi Dapur 12.
"Karena jumlah dapur arang ada 12, makanya daerah ini dinamakan Dapur 12," ungkap Ima salah seorang warga yang mengaku telah berusia sekitar 100 tahun, Selasa (7/8).
Menurut warga asal Alor, Flores ini, saat menginjakkan kaki di Dapur 12 sekitar tahun 1950-an, hanya belasan orang saja yang tinggal di Dapur 12. Membuat arang menjadi salah satu mata pencaharian utama warga saat itu, selain melaut.
Kawasan Dapur 12 merupakan salah satu produsen kayu arang bermutu untuk kemudian dijual ke Singapura. Arang bermutu ini dihasilkan dari bahan baku arang, berupa pohon bakau yang tumbuh subur di sepanjang pantai di sekitar itu.
Dapur-dapur ini dimiliki dan dibangun oleh orang Cina. Masyarakat akrab menyebutnya Tolo Tong Ci Pulau Buluh.
"Tolo Tong Ci dulunya merupakan orang terkaya di Pulau Buluh, sekarang sudah meninggal," jelasnya.
Setelah berbentuk arang, selanjutnya arang dimasukkan sementara ke tempat penyimpanan. Menunggu kapal masuk untuk mengangkut arang ke Singapura. Transaksi penjualan arang menggunakan mata uang dollar, dengan harga yang mereka sebut harga per katinya 40 sen.
Namun sejak adanya kebijakan pemerintah yang melarang produksi arang, satu per satu dapur arang pun berhenti beroperasi. Mata pencaharian warga pun beralih menjadi nelayan murni.
Tidak lagi di fungsikan, kondisi dapur arang di Dapur 12 Pantai lama kelamaan semakin tergerus. Hanya tersisa dua dapur arang dengan kondisi tak terurus. Salah satu dari dapur arang ini juga berlubang di bagian atasnya. Sedangkan di dalam lubang dapur sudah dipenuhi dengan sampah.
Sebagai kawasan Kampung Tua, bangunan dapur arang di Dapur 12 seharusnya bisa menjadi nilai sejarah tersendiri. Dan bisa menjadi semacam cagar budaya bagi kampung tua di Batam.
"Tidak ada perhatian sama sekali dari Dinas Pariwisata," kata salah seorang tokoh masyarakat Dapur 12 Pantai, Aryanto Rosyad.
Camat Sagulung, Abidun Pasaribu juga mengakui minimnya perhatian pemerintah atas bukti-bukti sejarah yang ada di wilayah Kampung Tua Dapur 12 Pantai. Jika tidak segera mendapatkan perhatian, tidak menutup kemungkinan dua dapur arang yang masih tersisa pun akan sirna.
Saat ini terdapat sekitar 300 kepala keluarga di Kampung Tua Dapur 12 Pantai. Sedangkan jumlah penduduk di Kelurahan Seipelunggut sendiri ada sekitar 22 ribu jiwa.
"Ke depan kita akan mencoba mengajukan agar ada anggaran untuk melestarikan nilai-nilai sejarah di Kampung Tua Dapur 12 Pantai ke Dinas Pariwisata," katanya. (wan)
- "Sutan Mahmud Mangkat di Bulang"
- Abrasi di Pulau Rangsang
- Lahir Cacat, Alvin Ditinggal Ayah
- Ranperda BUP Menuai Kontraversi
- Dishub Hadapi PTUN Blue Bird
- Farhan Dikenal Taat, Muchsin Anak Rajin
- Kunjungan Bupati ke Desa Tanjung Katung
- Jeritan Hati Sudarso, Korban Kebakaran Rumah Liar
- Gema Takbir Mengiringi Kepergian Ramadhan
- TKI dari Malaysia Mulai Padati Batam
- Tradisi Bubur Asyura di Tanjung Uma
- Pengemis Kian Marak di Batam
- Cara Turunkan Kolesterol saat Puasa
- Memetik Berkah Dibalik Ramadhan
- Risiko Serangan Jantung Menurun di Bulan Puasa
- Yang Tersisa Cuma Baju di Badan
- Berbuka Puasa di Masjid Baitussyakur
- Duarr! Operator Cetak Kalang-kabut
- Puasa, Zubaidah Tetap Berjualan Keliling
- Puasa, Zubaidah Tetap Berjualan Keliling


