Thursday, Aug 16th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert TKI dari Malaysia Mulai Padati Batam

TKI dari Malaysia Mulai Padati Batam

Setor 1.200 Ringgit untuk Mudik

NONGSA (HK)-- Tradisi mudik sudah menjadi hal yang tak bisa dihilangkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Meskipun berada jauh di luar negeri, namun hasrat untuk bisa berkumpul bersama keluarga di kampung untuk merayakan Lebaran, tetap menjadi prioritas.

Demikian pula halnya dengan para tenaga kerja Indonesia yang berada di Malaysia. Memasuki Hari Raya Idul Fitri 1433 Hijriah ini, jumlah TKI yang ingin mudik dari Malaysia ke sejumlah daerah di Indonesia mulai terlihat ramai. Mereka tampak di beberapa pintu masuk seperti bandara dan pelabuhan internasional.

Pantauan di lapangan, Selasa (14/8) di Bandara Internasional Hang Nadim, ratusan TKI memadati ruang tunggu keberangkatan. Para pahlawan devisa tersebut terlihat duduk berkelompok di sejumlah titik, dengan berbagai barang bawaan juga . Rata-rata, TKI tersebut berasal dari Pulau Jawa.

Sejumlah TKI yang ditemui mengaku, mereka mudik ke Indonesia melalui wilayah Kepri khususnya Batam dengan menggunakan jasa tekong. Untuk bisa mudik sampai ke kampung masing-masing, rata-rata mereka dikenakan biaya sekitar 1.200 Ringgit Malaysia atau setara dengan Rp3,6 juta.

Uang sejumlah itu, menurut para TKI, sudah termasuk tiket pesawat keberangkatan ke Surabaya, termasuk biaya penginapan satu malam di Batam.

Wira (27) salah satu TKI asal Pemekasan, Jawa Timur mengaku, dirinya pulang dari Malaysia hari Senin (13/8) lewat pelabuhan tidak resmi di sekitar Nongsa.

"Ongkos keseluruhannya dari Malaysia hingga berangkat ke Surabaya adalah 1.200 Ringgit Malaysia. Sampai di Batam, kami nginap dulu satu malam di tempat tekong menunggu dapat tiket pesawat. Setelah itu baru kita bergerak ke bandara. Yang jelas satu orang kena bayar 1.200 Ringgit Malaysia," katanya.

Menurutnya, ada ratusan TKI di Malasyia yang mudik ke Indonesia melalui Batam. Kenapa sibuk-sibuk mudik? Kata Wira, merayakan Lebaran di Malaysia atau kampung orang tidak seindah seperti di kampung halaman sendiri.

Karena itu, bagaimanapun caranya, dia akan berusaha untuk tetap pulang agar bisa merayakan Lebaran di tanah kelahiran.

"Tahun yang lalu, saya coba berlebaran di sana (Malaysia). Namun di sana saya tidak bisa kemana-mana hanya duduk di rumah saja. Mau keluar ke kota takut karena tidak punya izin resmi," tutur Wira.

Setelah Lebaran, kata Wira, dia bersama teman-teman TKI yang lain akan kembali mengadu nasib di negeri jiran tersebut. Dia mengaku, selama di Malaysia bekerja membuat rumah di kampung-kampung yang jauh dari perkotaan.

Hal senada dismapaikan Yudianto, TKI asal Cilacap. Dia mengaku sudah tiba di Bandara Hang Nadim sejak pagi.

"Kemarin (Senin) kita dari Malaysia hendak ke Batam lewat Pasir Gudang. Setelah itu kita langsung menuju Bandara untuk mencari tiket untuk pulang ke Jawa."

"Berat memang resikonya jika ingin bekerja di Malaysia. Bagi yang belum pernah kalau bisa lebih baik bekerja di kampung sendiri saja dari pada kerja di sana. Karena jika tidak kuat mental akan sengsara," tutur Yudianto.

Sementara itu, salah satu petugas di bandara mengatakan, rata-rata jumlah TKI dari Malaysia yang berangkat melalui Bandara Hang Nadim bisa mencapai ratusan. Biasanya, para TKi itu didampingi oleh tekongnya.

"Bahkan sekarang jumlahnya bisa sampai ratusan dalam satu harinya menjelang hari raya idul fitri ini," kata petugas yang minta namanya tak ditulis itu. (cw62)