Beruntunglah orang-orang yang telah mendapatkan kemenangan dengan berkah bulan yang penuh dengan ampunan (Ramadhan), ketupat sudah dimasak, rendang basah dan kering sudah siap saji, namun air mata tetap menetes, teringat kampung halaman yang telah ditinggalkan, kapankah pulang…” suara hati menjerit namun tiada seorangpun yang bisa mendengar, hanya suara takbirlah yang menjadi teman sepi, menjadi pengobat rindu bagi keluarga yang tengah menanti kedatangan seorang anak yang terpisah dari pangkuan ayah dan ibunya.
Seluruh ummat muslim bergembira dengan datangnya hari kemenangan idul fitri, hari yang dinantikan, namun Ramadhan tidak pernah dilupakan, keajaiban Ramadhan selalu dinantikan, namun kebebasan di iidul fitri selalu di dambakan, kemanakah arah tujuan setelah Ramadhan meninggalkan jiwa yang gelap dan penuh dengan kesalahan, terhapus di bulan yang fitrah, kalau manusianya beruntung dan mendapat ampunan dari yang Maha Rahmah.
Berderetan mobil hias yang diikuti suara gema takbir malam itu, malam yang penuh dengan kemewahan, keindahan, kemeriahan dan kesenangan, duka cita hilang, namun tetap menjadi sebuah kenangan yang mendalam. Ramadhan kini telah pulang, tak ada yang peduli dengan dosa dan keterpurukan, bahwa dosa yang belum terhapus akan terpendam menjadi karat yang sulit untuk dipupus oleh air mata perpisahan dengan bulan ramadhan.
Sederetan mobil yang telah dihias bak wajah seorang pengantin berjalan, mewah ikut serta dalam lomba takbir yang menghabiskan biaya pemerintah Kota Batam hingga 25 juta rupiah, seperti penuturan orang yang terdepan Alwi AR sebagai penaggung jawab pawai, takbir, takbir adalah salah satu rutinitas yang diselenggarakan, mengindahkan kalam dan keagungan ilahi, memuji atas karunianya, maka mestilah digungkan dan dibuat sebatas pencapaian masyarakat Muslim Batam.
Ini semua berkat keberkahan Ramadhan, keampunan sudah di depan mata, hubungan erat silaturrahmi telah dibuka dan lebih dieratkan. Hidangan lebaran tersusun rapi di atas meja, menunggu kedatangan sanak saudara yang berkunjung memberikan ketulusan dan kemafan atas dosa yang telah dilakukan selama bergaul diperantauan.
Gema takbir dari masjid-masjid pagi yang cerah, menanti jamaah untuk menuanaikan sholat id berjamaah, seuntai kata-kata tausiah yang diberikan oleh sang ustads, namun tidak sedikit yang tidak berharap dengan kata-kata indah itu, kenapa ummat muslim?, dihari yang penuh dengan kemenangan, malah tidak seperti hari yang menang. Wasiat taqwa diabaikan, khutbah ustad yang berdiri tegak diabaikan, berlahan pelan meninggalkan masjid sebelum rukun id dituntaskan. Sedih..!, kesedihan meninggalkan sanak keluarga, namun lebih sedih lagi menyaksikan seuntai kata khutbah yang dilupakan para jamaah.
Kesabaran para jamaah tidak bisa dihentikan, berlahan meningglkan masjid, tanpa arah dan tujuan, sedih memang. Sebelum khutbah habis, jamaah sudah habis dari dalam masjid. Dimana kesadaran ummat muslim ! masih adakah kesadaran itu?, dan dimana kebersamaan ummat muslim dalam memerangi kebthilan!. Bukankah hari yang fitrah itu, adalah bahagian dari cerminan dosa kita?.
Sumbangan harta yang telah disalurkan dari berbagai masjid dan musholla, telah menambah kedermawanan masyarakat Batam yang telah memberi dan menyumbangkan kepada yang berhak untuk ikut serta menikmati hari kemengangan dengan merayakan hari lebaran, senyum riang, canda tawa, terlihat dimuka mereka, lambaiyan tangan, ucapan terima kasih sudah menenangkan hati yang lapang. Zakat adalah karunia Tuhan, yang meski dibagikan. Yang berhak akan mendapatkan, sedangkan yang memberi akan mendapatkan kebahagiaan. Yang tertuju adalah ramhat dan pengampunan Tuhan.(kodir)
Gema Takbir Mengiringi Kepergian Ramadhan
- Jumat, 24 August 2012 00:00
Allahuakbar – Allahuakbar – Allahuakbar, suara gemuruh takbir dimalam menyambut kemenangan berkumandang, terdengar dari segenap penjuru Kota Batam, serasa suara syahdu, namun serasa sembilu menyayat dihati. Hari kemenangan telah tertuju dipelupuk mata, namun hari yang penuh dengan keberkahan akan kembali meninggalkan dunia dan alam seisinya.

