Thursday, Aug 30th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Jeritan Hati Sudarso, Korban Kebakaran Rumah Liar

Jeritan Hati Sudarso, Korban Kebakaran Rumah Liar

Berharap Bisa Mendapatkan "Jimat" Pengganti

BATAM (HK)- Sudarso alias Ajo (34) tak bisa memejamkan matanya, meski sudah berkali-kali berusaha untuk bisa terlelap. Di tenda penampungan milik Dinas Sosial (Dinsos) Kota Batam, pria asal Pulau Jawa itu masih getir memikirkan bagaimana cara untuk bisa mendapatkan ijazahnya yang ludes terbakar.

Peristiwa kebakaran di pemukiman liar Muara Takus, Seraya, Batam pada Selasa (21/8) lalu, meninggalkan duka bagi para penghuni rumah yang menjadi korban kebakaran. Betapa tidak. Seluruh penghuni rumah yang berjumlah 257 dewasa, serta puluhan anak-anak tinggal di pemukiman yang ilegal atau biasa disebut rumah liar (ruli).

Meski Ajo sudah meletakkan kedua tangannya secara sempurna di bawah kepalanya, namun kelelahannya tak bisa mengalahkan kecemasannya. Bagi Ajo, ijazah sekolahnya itu bagaikan 'jimat jitu' untuk kelangsungan hidupnya. Berkat 'jimat' itu pulalah kini dia bisa bekerja di PT Oskar di Pelita, Batam.

Saat Haluan Kepri menyambangi penampungan korban kebakaran, Ajo hanya pasrah. Ia berharap surat keterangan telah terjadinya kebakaran bisa menjadi surat sakti untuk bisa mengurus kembali ijazahnya yang sudah menjadi debu.

"Setelah dapat tempat tinggal baru, saya akan berangkat ke Jawa untuk mengurus ijazah di tempat saya sekolah dulu. Tapi saya masih bingung, gimana caranya bisa pulang ke kampung," kata Ajo ditemui di lokasi penampungan, Jumat (24/8).

Raut wajah pria asal Pulau Jawa ini, mewakili wajah-wajah cemas korban lainnya yang dokumen berharga milik mereka ikut terbakar bersama harta benda lainnya. Namun, dibalik kecemasan tersebut, para korban masih menanti bantuan dari pihak pemerintah, pengusaha dan masyarakat. Mereka sangat membutuhkan pakaian dalam dan juga makan untuk anak-anak mereka.

Derita yang dialami oleh Ajo memang terbilang lebih dibandingkan korban yang lain. Selain kehilangan ijazah dan seluruh dokumen penting, Ajo juga berduka atas meninggalnya Stella. Putri berusia 9 tahun itu adalah keponakannya sendiri.

Kesediahan yang sama juga disampaikan Jesmin Simbolon, korban lainnya. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menyelematkan ijazah isterinya dari amukan si jago merah.

"Ijazah isteri saya yang jadi korban, karena memang tidak ada barang yang dapat kami selamatkan," tuturnya, lirih.

Harapan yang diinginkan para korban kebakaran sudah dipastikan bakal terkabulkan. Pasalnya, Pemerintah Kota (Pemko) Batam melalui aparat setempat sudah menfasilitasi korban untuk mendapatkan surat keterangan sebagai pra syarat untuk mendapatkan dokumen pengganti di tempat masing-masing.

Sumbangan Berdatangan


Tiga hari setelah peristiwa kebakaran, bantuan terus mengalir. Anggota lesgislatif, perusahaan, paguyuban dan orang pribadi secara sukarela telah mengantarkan berbagai bantuan. Mulai dari makanan, minuman hingga pakaian.

Salah satu yang menunjukkan kepeduliannya adalah PT PLN Batam. Perusahaan penyedia listrik di kota ini memberikan bantuan berupa baju kaos sebanyak seratus lembar dan kebutuhan sehari-hari. PLN Batam juga membantu memberikan penerangan.

"Semoga ini bisa mengurangi beban para korban. Bagi pelanggan kita nantinya yang mau mengurus kembali listriknya akan tetap kita layani," tutur GM Unit Pelayanan PT PLN Batam Amris Adnan.

Sebelumnya, Dinas Sosial Kepri juga turut memberikan bantuan sandang dan pangan. Juga menyerahkan bantuan berupa seragam sekolah.

Sementara itu, Dayat, petugas yang disiagakan di Posko Penampungan, menuturkan bahwa setidaknya 170 penyumbang yang silih berganti datang memberikan bantuan. Hanya saja, saat ini, lanjutnya, korban kebakaran sangat membutuhkan pakaian dalam dan makanan untuk anak-anak mereka.

Selain menggalang bantuan, panitia posko juga mencatat kerugian-kerugian korban, terutama mereka yang mengalami kehilangan dokumen penting seperti ijazah, paspor, akte kelahiran, kartu keluarga dan KTP.

Sementara kebutuhan kesehatan, saat ini mereka merasa cukup. Karena sejak kejadian, di tempat tersebut sudah disiagakan satu mobil puskemas keliling milik dari Puskesmas Tanjung Sengkuang beserta dua petugas medis.

Bahkan setiap harinya kurang lebih 15 korban menjalani pemeriksaan, mulai dari pusing hingga pemeriksaan luka akibat kebakaran yang menimpa warga RT 03 RW 02 Muara Takus ini.

"Untuk kesehatan mereka sudah tertangani, setiap harinya sekitar 15 warga yang memeriksakan kesehatan," tutur Beti, salah seorang petugas kesehatan yang disiagakan di tempat penampungan.

Diputuskan Rp1 Juta

Berdasarkan rapat bersama Walikota Batam dengan sejumlah SKPD di Kantor Walikota Batam, Jumat (24/8), telah diputuskan bahwa bantuan yang diberikan kepada masing-masing korban kebakaran menjadi Rp1 juta. Nilai bantuan itu dinaikkan dari keputusan sebelumnya senilai Rp500 ribu.

"Bantuan sagu hati bagi korban kebakaran kita berikan sebesar Rp1juta untuk tiap kepala keluarga. Insya Allah besok (hari ini, red) akan disalurkan," kata Wakil Walikota Batam Rudi.

"Memang sebelumnya kita rencanakan tiap kepala keluarga akan dibantu Rp500 ribu untuk sewa kamar kos sebulan. Namun saat dirapatkan jumlah tersebut ditambah menjadi satu juta," kata Kepala Dinas Sosial Kota Batam Raja Kamaruzaman menambahkan.*** oleh: Amir Yunus & Jailani