Saturday, Sep 08th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Farhan Dikenal Taat, Muchsin Anak Rajin

Farhan Dikenal Taat, Muchsin Anak Rajin

Terduga Teroris yang Tewas di Solo

Nunukan (HK)- Farhan Mujahid, orang yang diduga sebagai pelaku teror di Solo, Jawa Tengah, dikenal sebagai anak yang taat beribadah dan penurut semasa kecil. Farhan, yang tewas dalam baku tembak dengan polisi anggota Densus 88 Anti-Teror di Solo pada Jumat (31/8), semasa kecil bersekolah di SD 041 Muhammadiyah Liang Bunyu, Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur.

"Anak itu perangainya baik, penurut pada orang tua dan gurunya. Dia (Farhan) juga taat beribadah," kata gurunya yang bernama Marhani di Sebatik, Minggu malam.

Menurut Marhani, Farhan termasuk siswa yang rajin belajar dan selalu mematuhi perintah guru maupun orang tua. Farhan juga dikenal baik oleh teman-temannya di sekolah dan luar sekolah di Liang Bunyu.

"Saya sebagai gurunya dulu sangat kaget mendengar kabar bahwa dia tewas tertembak oleh polisi karena keterlibatannya dalam jaringan teroris," kata Marhani.

Orang tua teman sekolah Farhan yang bernama Nasir mengaku senang melihat perilaku Farhan yang baik. "Farhan itu teman baik anak saya, walaupun anak saya itu adik kelasnya. Kalau tidak ada kegiatan dia selalu di rumah main," ucapnya.

Farhan juga dikenal sering mengikuti pengajian agama di Masjid Darus Salam yang ada di samping sekolah.

"Saya perhatikan juga rajin pergi sholat di masjid. Kebetulan ayah tirinya juga yang merawat masjid di samping sekolah itu," sebutnya.

Sejumlah informasi yang diperoleh dari warga Liang Bunyu mengaku sangat kenal dengan Farhan, walaupun pada saat berada di Liang Bunyu bersama orang tuanya usianya baru sekitar 10 tahun.

Sementara itu, Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mukmin Ngruki Sukoharjo menyatakan bahwa dua terduga terorisme Farhan Mujahidin (19) dan Muhksin (19) yang ditembak tewas dalam penyergapan oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri di Tipes Solo, memang bekas anak didiknya.

"Farhan sebelum masuk sekolah SMP Ngruki, dia merupakan lulusan SD 041 Liang Bunyu Nunukan Kalimantan, sedangkan Muhksin lulusan SMP 126 Jakarta yang kemudian mendaftarkan tingkat SMA Ngruki," kata Direktur Ponpes Al Mukmin Ngruki Sukoharjo Ustadz Wahyuddin, di Sukoharjo, Senin (3/9).

Menurut dia, kedua bekas siswa Ngruki tersebut memang sama-sama mengalami masalah terkait dengan biaya administrasi pendidikannya. Wahyuddin menjelaskan, pihaknya sebenarnya selama ini merasa tenang karena kegiatan belajar mengajar di Ponpes Al Mukmin Ngruki berjalan dengan lancar. Ponpes ini arahnya ke sebuah lembaga pendidikan Agama Islam dan dakwah.

"Kami tidak bergeser dari misi dan visinya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah itu. Moto Ponpes Ngruki yang ditanamkan ke santrinya, untuk menjadi kader-kader yang soleh, cerdas, dan mendiri," tegasnya.

Menurut Wahyuddin, yang menjadi unggulan dalam pendidikan di Ngruki, antara lain dapat menjadikan anak kuat dalam ibadah, akhlak, fasih baca Al Quran, kemampuan bahasa Inggris maupun Arab, dan nilai-nilai akademis.

Ia menjelaskan, masalah Farhan memang lulusan SLTP di Ponpes Ngruki pada 2008, tetapi karena dia masih memiliki masalah administrasi sehingga ijazahnya masih ditahan di Ngruki hingga sekarang.

Namun, Farhan kemudian tidak melanjutkan kejenjang tingkat SMA dan dia keluar dari Ponpes Ngruki.

Farhan Mujahidin nama sebenarnya yang tercantum di ijazahnya itu, asalnya dari Liang Bunyu Nunukan Kalimantan dan orang tuanya tertulis, Muh Aris. Muhksin asalnya Kramat Jati Jakarta Selatan, dia sebelum mendaftar sekolah SMA di Ngruki merupakan siswa lulusan SMP 126 Jakarta.

Farhan adalah anak kandung istri kedua Ustad Abdullah Umar, murid Ustadz Abu Bakar Baasyir, yang diboyong ke Liang Bunyu setelah pulang dari berjihad di Poso, Sulawesi Tengah.

Abdullah Umar telah menjalani hukuman setelah divonis bersalah karena dianggap terlibat dalam jaringan terorisme, kata salah seorang warga Liang Bunyu, Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur, Nasir.

Menurutnya, Farhan yang merupakan salah satu teroris yang menjadi korban penembakan di Solo Jawa Tengah tersebut berteman baik dengan anaknya sewaktu tinggal di Liang Bunyu tahun 2000 silam.

Ia mengaku sangat kaget setelah mendengar pemberitaan di media bahwa teroris yang tewas di Solo adalah Farhan Mujahid. Bahkan Nasir mengetahui saat penangkapan Ustad Abdullah Umar saat bersama dengan Ustad Abu Bakar Baasyir. "Saya tahu waktu Ustad Abdullah Umar ditangkap sebagai anggota teroris saat bersama Abu Bakar Baasyir," ujarnya.

Muchsin Rajin Cuci Piring

Lain Farhan, lain pula cerita tentang Muchsin. Terduga teroris Muchsin (19) yang juga tewas ditembak mati di Solo, berperilaku baik terhadap ibu tirinya, Ziny Hasanah (41). Bahkan Muchsin suka membantu ibu tirinya mencuci piring.

"Anaknya baik sih. Suka membantu mencuci piring, ringan tangan begitu," kenang Ziny, di kediaman ayah Muchsin, Gang Haji Latif, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (3/9).

Ziny tidak menyangka anak tirinya tersebut bisa terjerumus dalam aksi terorisme. Apalagi usia Muchsin masih terbilang muda. "Tidak menyangka banget soalnya anaknya sopan," kata Ziny.

Ziny terakhir bertemu Muchsin pada Lebaran bulan Agustus 2012. Muchsin bahkan ikut renang bersama keluarga.

Di tempat yang sama, Muslimin, ayah kandung Muchsin membenarkan terduga teroris yang tewas di Solo merupakan anaknya. Namun dia tidak menyangka jika anaknya merupakan teroris. "Dia ramah, suka bercanda. Makanya saya nggak begitu yakin yang diduga teroris adalah anak saya," kata Muslimin.

Muslimin membenarkan Muchsin pernah menuntut ilmu di Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo. Muchsin mondok di pesantren itu selama 4 tahun.

Pertemuan terakhir Muslimin dengan Muchsin terjadi pada 26 Agustus lalu. Setelah itu Muchsin pamit pulang ke Solo. "Dia mau menyiapkan ternak ikan untuk usaha," ucap Muslimin.

Muchsin bersama rekannya Farhan ditembak mati Densus 88 di Solo pada Jumat (31/8). Jasad keduanya kini berada di RS Polri Kramat Jati menunggu hasil autopsi.

Sampel DNA

Polisi telah melakukan pengambilan sample DNA terhadap Farhan, satu dari terduga teroris. "DNA sudah dilakukan kemarin. Untuk sementara satu keluarga korban sudah diambil sample. Fn keluarganya sudah diambil sampelnya," kata Kabagpenum Polri, Kombes Agus Rianto, di Mabes Polri, Jakarta, kemarin.

Guna mengetahui kecocokan hasil tes DNA, Agus melanjutkan, membutuhkan waktu dua sampai tiga hari ke depan.

Agus juga mengatakan, penyidik Polri masih melakukan pendalaman terkait keterlibatan terduga teroris yang ditangkap di Karanganyar, B. "Kita punya waktu tujuh kali 24 jam untuk proses pendalaman," beber Agus.

Mengenai adanya pemukulan terhadap mertua terduga teroris B, Agus menuturkan pihaknya siap untuk menerima laporan terkait aksi Densus 88 yang menghajar mertua B. "Kalau misalnya ada keluarga yang keberatan kita siap menerima laporan itu," kata Agus. "Teman-teman kami (Densus 88) menghadapi antara dua, kalau kita yang tidak menjadi korban ada orag lain," elak Agus.

Farhan Tembak Duluan

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Mabes Polri Komisaris Besar Polisi Agus Rianto menegaskan penembakan yang terjadi di Solo pertama kali dilepaskan oleh salah satu terduga teroris Farhan.

"Menurut informasi petugas di lapangan yang menembak terlebih dulu adalah Farhan," katanya, kemarin.

Tembakan Farhan kemudian mengenai bagian perut salah satu anggota Densus 88 Antiteror Briptu Suherman. Melihat hal tersebut anggota Densus lain melepaskan tembakan untuk melumpuhkan Farhan dan kawannya Mukhsin. Sebelum menembak, Suherman terlibat pergumulan dengan Farhan.

Baku tembak terjadi antara dua orang pelaku teror dengan anggota satuan tugas khusus antiteror Densus 88 di samping pusat perbelanjaan Lottemart di Jalan Veteran, Tipes, Surakarta sekitar pukul 21.30. Terduga teroris Farhan dan Mukhsin tewas tertembak di tempat kejadian. Anggota Densus 88 Antiteror Briptu Suherman juga gugur dalam menjalankan tugas. Suherman meninggal dunia sesampainya di rumah sakit. Ia dimakamkan di Pinrang, Sulawesi Selatan.

Hingga kini, Polri masih terus mendalami saksi-saksi dan bukti dari kasus terorisme di Solo. "Barang bukti sedang diperiksa di Laboratorium Forensik Mabes Polri," kata Kapolri Jendral Timur Pradopo di Komplek MPR/DPR, Senayan Jakarta.

Mencegah kasus semacam ini terulang, Polri akan berupaya meningkatkan kordinasi intelijennya dan melibatkan unsur masyarakat sebagai pemberi informasi awal. "Ini berguna untuk mengatasi kalau ada kaitannya dari informasi intelijen yang bisa kita tindaklanjuti," jelas Timur.

Timur berharap semua pihak bersabar dan memberikan waktu kepada Polri mengembangkan kasus ini. Sehingga dapat dipastikan secara benar apakah ada keterkaitan antara peristiwa penembakan dengan jaringan terorisme lama.

"Tunggu saja hasilnya, ini pasti akan berkembang yang lebih baik adanya tersangka dan apakah benar ini bukan teroris," ujarnya. (ant/dtc/rol/ti)