Abrasi yang menerjang Pulau Rangsang, kian mencemaskan. Pulau yang menjadi perisai hijau kota Selatpanjang, kini terur tergerus ombak. Akibatnya, luas daratan pulau yang berhadapan dengan Selat Malaka tersebut, semakin menyusut di 16 titik lokasi abarsi. Kondisi yang paling parah terjadi di Tanjung Motong dan Teluk Anak Setatah.
Di dua titik ini, abarsi benar-benar menguras luas daratan wilayah Desa Anak Setatah dan Bantar. Dua desa yang bertetangga ini yang terletak satu hamparan, kini nyaris terpisah. Soalnya, abrasi nyaris memutus Pulau Ransang di titik rawan abrasi antara Teluk Anak Setatah dan Bantar yang kini tinggal 1,5 kilo meter lagi.
“LETIH, sudah kami bercakap soal abarasi ini Pak. Sampai hari ini, tak ada upaya dari pemerintah pusat untuk menyikapi abrasi yang terus menerus menerjang pantai desa kami. Tak hanya kebun warga, rumah, mesjid dan kuburan pun sudah ikut terjun ke laut. Hilang sudah halaman tempat anak-anak kami bermain” tutur Atan (49) mengawali perbincangan dengan Haluan Kepri di Anak Setatah, Jumaat (7/9).
Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, urai Atan, luas daratan desa Teluk Anak Setatah terus menyusut. Abrasi yang menghantam bibir pantai, tak pernah berhenti. Terutama pada tiga bulan di akhri tahun. Tiupan angin yang kencang dan derasnya deburan ombak pada musim utara, menyebabkan bibir tebing pantai tak kuat dan bergetar. Bongkahan besar tanah akan terburai dan hanyut terjun ke laut. Kalau soal berapa luas daratan desa kami yang sudah terjun ke laut, sulit untuk kami paparkan.
“ Yang jelas, daratan desa ini jauh kearah laut sana” ungkap Atan sambil menunjuk satu titik bekas tunggul batang kelapa ke arah laut lepas.
Kepala desa Anak Setatah Zulhadi mengakui abrasi yang menghantam pantai desanya sulit dibendung. Upaya pencegahan dengan penanaman bakau, juga tak mampu menahan laju ombak. Bahkan, ribuan bibit bakau yang ditanam kelompok TEGAS yang konsisten menanami pantai Teluk Anak Setatah, tak membuahkan hasil.
“ Kalau tak ada upaya pembangunan batu bronjong pemecah ombak, abrasi tetap akan menghantam pantai ini. Jujur, kita sudah berupaya untuk menanami kembali kawasan pantai ini dengan bibit bakau, tapi terus hanyut di terjang ombak. Apalagi yang bisa kami lakukan” beber Zulhadi dengnan nada setengah bertanya.
Lebih 800 Meter yang Yuntuh
Kadishutbun Meranti Makmun Murod yang dikonfirmasi kemarin mengakui saat ini abrasi menjadi persoalan yang sangat rumit untuk dipecahkan. Dari data sebaran abrasi yang dimiliki Dishutbun Meranti, ada 6 desa yang menjadi titik terparah di terjang abrasi. Dua diantaranya, Bantar dan Anak Setatah.
“ Dalam 12 tahun terahir, luas daratan yang runtuh ke laut di terjang abrasi mencapai 800 meter lebih. Dengan sebaran panjang abrasi mencapai ribuan meter, mulai dari Pantai Barat Pulau Rangsang sampai Pantai Timur. Dari paparan warga, di daerah ini dulunya ada mesjid, rumah warga dan kuburan. Sekarang semuanya hilang, runtuh di terjang abrasi” beber Murod.
Untuk mengantisipasi meluasnya abrasi, lanjut Murod, jelas sangat tidak mungkin kalau harus mengandalkan kekuatan masyarakat dan Pemkab Meranti. Selain sebaran abrasi yang luas, biaya untuk program mengantisipasi abrasi ini juga cukup besar. Untuk itu, mau tidak mau Pemerintah pusat harus turun tangan, imbuh Kadishutbun Meranti tersebut (lan)