Monday, Sep 17th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Erni, Pengidap Kaki Gajah Sejak 14 Tahun Silam

Erni, Pengidap Kaki Gajah Sejak 14 Tahun Silam

Penyakit itu Membuatnya Jadi Pemurung

KARIMUN (HK)- Tak mudah bagi Erni (28) menjalani hidupnya. Akibat penyakit kaki gajah yang dideritanya, kini ia menjadi wanita pemalu. Karena penyakit itu pula Erni putus sekolah.

Sudah 14 tahun ini, Erni berjuang melawan penyakit yang dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah filariasis. Penyakit kaki gajah itu menghinggapi kaki kiri Erni sejak dirinya masih duduk di bangku kelas 1 SMP di Karimun, Kepri.

Awal penyakit itu menyerang diketahui Erni ketika melihat luka di atas mata kaki kirinya. Belum sembuh luka itu, tapi tapak kakinya mulai membengkak hingga akhirnya menjalar ke seluruh kaki kirinya itu.

Saat itu, bengkak di kaki kirinya itu belumlah sebesar sekarang, jadi dirinya masih bisa untuk tetap sekolah. Namun, lama kelamaan pembengkakan kaki itu semakin membesar sampai dirinya duduk di kelas 3 SMP. Karena merasa minder dengan teman-teman, Erni pun memutuskan tak mau melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMA. Jadilah, gadis itu hanya tamatan SMP.

Seiring bergulirnya waktu, Erni bukan hanya minder ke sekolah, sifatnya pun mulai berubah. Erni yang dulunya ceria sekarang berubah jadi gadis pemalu. Dia tak mau menampakkan wajahnya kepada setiap orang asing yang datang berkunjung ke rumahnya. Dirinya lebih memilih berkurung dalam kamar ketimbang membukakan pintu rumah.

Seperti yang terjadi Selasa (11/9) kemarin, saat Haluan Kepri menyambangi rumahnya yang berlamat di Kampung Sememal, RT 02/RW 01 No 26, Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Meral, Kairmun, Erni tak mau membukakan pintu rumah, meski sudah dipanggil berulang kali. Tetangganya menyebut, kalau Erni tak mau dijumpai orang jika tak ada orang tuanya. Sementara, ibu Erni saat itu sedang pergi berbelanja ke Pasar Bukit Tembak, Meral.

Lebih tiga jam wartawan koran ini menunggu di rumah tetangga Erni. Siangnya, Nuraini, Ibunya Erni, pulang ke rumah. Dirinya mempersilakan Haluan Kepri duduk di beranda rumahnya. Setelah memperkenalkan diri dan menanyakan maksud ke rumahnya, Nur, begitu ibu Erni disapa, mulai menceritakan awal mula penyakit yang diderita putrinya hingga kini.

"Sekarang Erni memang begitu, dia jadi pemalu, tak mau jumpa sama orang. Dia lebih suka mengurung diri dalam rumah. Apalagi, kalau saya tak ada di rumah, jadi kalau ada yang datang bertamu dirinya memang tak mau membukakan pintu. Makanya, ketika ada pemeriksaan darah seminggu lalu, dia tak mau datang ke Pustu di Pasir Panjang," ujar Nur mulai bercerita.

Selain karena faktor fisiknya seperti itu, faktor lain yang menyebabkan Erni menjadi pemalu karena dirinya tidak mau lagi gambarnya dirinya, maupun gambar ibunya bahkan rumahnya tampil di media massa.

"Makanya, mas tak boleh ambil foto anak saya, foto saya maupun rumah ini. Saya tak mau Erni bertambah malu," ungkap Nur.

Selama ini, kata Nur, terkait sakit yang di derita anaknya itu, tak pernah ada bantuan sama sekali dari Pemkab Karimun. Baik berupa bantuan langsung untuk pengobatan, maupun perhatian lainnya. Untuk mengambil obat, dirinya menggunakan Kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Obat itu, diambilnya di RSUD Karimun ataupun di Puskemas Pembantu Pasir Panjang.

"Kalau datang ke sini, Dinas Kesehatan sudah sering, bahkan belum satu minggu ini mereka datang lagi ke rumah saya, saat itu kedatangan mereka adalah untuk mengambil sampel darah Erni. Karena saat itu ada pengambilan sampel darah di Pustu Pasir Panjang, namun Erni tak mau datang ke sana, sehingga mereka sendiri yang datang kesini," jelas Nur.

Namun, yang namanya bantuan, kata dia, dirinya mengaku belum pernah menerima bantuan dalam bentuk apapun dari Pemkab Karimun ataupun Dinas Kesehatan. Meski tak ada bantuan, namun dirinya tetap berusaha mencari obat untuk anaknya itu.

"Kalau dibilang tak berobat, Erni memang selalu rutin minum obat," ungkap Nur.

Saking rutinnya, sambungnya lagi, dia tak mau minum obat lagi karena meskipun sudah bertahun-tahun minum obat. Makanya, dia tidak percaya lagi minum obat itu, soalnya setiap minum obat dia tidak melihat ada perubahan di kakinya itu.

"Saya kadang kasihan melihat kondisinya yang seperti itu," ujar Nur lirih dan sambil menyeka air matanya.

Bukan hanya sekedar pengobatan medis, dirinya juga mengaku pernah membawa anaknya berobat secara tradisional, bahkan sampai ke Sei Guntung, Inhil, Riau.

"Namun, penyakit anak saya tak kunjung sembuh juga. Bahkan, tapak kaki sebelah kanannya sekarang sudah mulai terlihat membengkak," lanjut Nur.

Nur sangat berharap kepada Pemkab Karimun, khususnya Dinas Kesehatan agar membantu pengobatan anaknya sampai sembuh. Karena, dirinya tidak tahu lagi bagaimana cara menyembuhkan penyakit anaknya itu. Apalagi, sebagai orang awam, Nur tidak pernah diberitahu tindakan apalagi yang harus dilakukan jika anaknya sudah meminum obat rutin yang menggunakan Jamkesmas itu.

Seperti diberitakan koran ini edisi Senin, 10 September 2012, seorang dokter yang dinas di Karimun menyebut bahwa di Karimun setidaknya ada tiga warga yang menderita penyakit kaki gajah.

"Tiga orang warga Kelurahan Pasir Panjang yang diduga positif menderita kaki gajah itu, satu orang di Pasir Panjang, satu orang di Teluk Senang dan di Teluk Setimbul," kata dokter tadi, Minggu (9/9).

Ia menerangkan, penyakit kaki gajah itu mulai dideteksi di Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Meral pada 2005 silam. Ia menceritakan, dari hasil tes yang dilakukan terhadap 300 orang warga di daerah itu, tiga orang dinyatakan positif mengidap kaki gajah.

Padahal, lanjut dokter pria itu, berdasarkan aturan dari WHO, jika dari hasil pengambilan sampel ditemukan 1 persen pasien yang postif dari jumlah sampel yang diambil, maka harus dilakukan pengobatan massal berkelanjutan selama lima tahun. Namun sayang, meski saat itu sudah ditemukan tiga orang positif terkena penyakit yang disebabkan cacing filaria wuchereria bancrofti, brugia malayi, atau brugia timori yang ditularkan melalui gigitan nyamuk itu, namun Dinas Kesehatan Karimun belum mengambil tindakan apapun.

Dalam dunia kesehatan, penyakit kaki gajah disebut sebagai filariasis atau elephantiasis. Penyakit ini merupakan golongan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria. Penyakit ini ditularkan melalui nyamuk yang menghisap darah seseorang yang telah tertular sebelumnya. Darah yang terinfeksi dan mengandung larva dan akan ditularkan ke orang lain pada saat nyamuk yang terinfeksi menggigit atau menghisap darah orang tersebut.

Karena hal inilah filariasis dapat menular dengan sangat cepat. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan, dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik laki-laki maupun perempuan. Penyakit kaki gajah bukanlah penyakit yang mematikan namun bagi penderitanya al ini merupakan sesuatu yang dirasakan memalukan dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. (ilham)