Dampak krisis ekonomi global, mulai dirasakan para petani kelapa dan karet di Kabupaten Kepulauan Meranti. Anjloknya harga kelapa bulat dan karet hingga 50 persen, menyebabkan pendapatan petani karet dan kelapa di Meranti ikut turun.
Yang paling merasakan dampak dari kondisi ini adalah para buruh penyadap karet dan buruh kelapa. Ribuan buruh penyadap karet kabupaten Kepulauan Meranti terancam turun pendapatannya.
Anjloknya harga komoditas kelapa dan karet yang menjadi andalan masyarakat Meranti, akan membawa pengaruh yang besar pada sebaran kantong kemiskinan di daerah.
Kalau semula kantong-kantong kemiskinan berada di sekitar wilayah pesisir pantai dan sungai, yang didominiasi oleh nelayan tradisional kini meluas. Kantong-kantong kemiskinan di Meranti akan meluas menyentuh kehidupan para buruh petani.
Kondisi ini harus diwaspadai Pemkab Kepulauan Meranti. Soalnya, kalau krisis ekonom global yang menjadi penyebab anjloknya harga kelapa dan karet berlangsung lama jelas akan mendongkrak angka kemiskinan di Meranti.
“Meranti harus mewaspadai kantong kemiskinan baru. Sebaran kantong kemiskinan di daerah ini tidak lagi terpokus di kawasan pesisir pantai, tapi meluas ke daratan kawasan perkebunan” ungkap mantan Sekdakab Siak ini.
Menurut dia, pendapatan buruh tani, akan berdampak pada rendahnya kemampuan untuk memenuhi kebutuan hidup. Pemkab Meranti harus segera mencari format untuk mengantisipasi situasi ini. Kalau tidak, kondisi ini akan menjadi masalah baru bagi pembangunan di Meranti.
Kondisi ini tidak hanya akan menambah jumlah masayrakat miskin. Kalau sekarang ini berada di titik 42 persen, tidak terutup kemungkinan akan merambat naik mencecah 48 persen.
“Ini akan semakin rumit dan menjadi tantangan yang harus segera dijawab oleh pemkab Meranti dengan langkah riil. Inilah waktunya, SKPD terkait menunjukkan kemampuannya untuk menguraikan persoalan. Ini akan menjadi bukti sampai dimana kualitas dan kuantitas kinerja pemda Meranti’” tegas Basiran Sarjono ketua komisi II DPRD Meranti yang membidangi Ekonomi dan Perdagangan.
Rojikin (38) buruh penyadap karet di Alai Kecamatan Tebing Tinggi Barat mengaku tak lagi mampu untuk membiayai seluruh kebutuhan keluarganya. Kalau semula dari upah sebagai penyadap karet seharinya ia mampu membawa pulang Rp30 ribu semenjak harga karet anjlok hanya mendapatkan upah Rp10.000/harinya.
“Dengan pendapatan sebesar ini jelas tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum lagi untuk biaya sekolah anak, mulai dari uang jajan dan berbagai keperluan sekolah lainya. Soalnya, meskipun sekolah gratis bebas SPP, tapi untuk beli buku dan LKS tetap harus merogoh kocek pribadi” ungkap Rojikin dengan nada memelas.
Rojikin bukanlah satu-satunya buruh penyadap karet yang merasakan langsung dampak dari anjloknya harga karet. Poniman, Rogayah dan Sulastri juga mengalami persoalan yang sama. Sulastri (40) yang sehari-harinya mengambil upah mengupas kelapa bulat, hanya mampu membawa pulang Rp.20.000/harinya. Padahal sebelum harga kelapa anjlok, mampu membawa pulang Rp.40.000-Rp.50.000/harinya. Jatuhnya harga kelapa membuat pemilik kelapa menurunkan upah.
Manger Bank Riau Kepri cabang Selatpanjang H. Irianto, SH mengatakan untuk saat ini dari sisi perbankan, turunya harga kelapa dan karet tidak berpengaruh pada aktifitas perputaran uang. Namun, kalau kondisi ini berlangsung lama jelas akan bepengaruh pada penurunan pendapatan perkapita masyarakat Meranti.
Untuk itu, pemkab Meranti harus cermat dan cerdas menyikapi masalah ini. Instansi terkait harus menyiasati persoalan turunnya harga karet dan kelapa ini. Apakah benar dampak krisis global atapun ulah para tengkulak. Bagaimanapun juga, aktifitas bisnis jual beli kelapa dan karet di daerah ini dikuasi tengkulak.
“Kalau system tata niaga seperti ini terus berjalan, petani kita tidak akan pernah sejahtera. Harga komoditas petani akan mudah digoyang, dan imbasnya kalau terjadi lama akan berdampak pada pendapatan petani. Kantong kemiskinan di Meranti akan terus menyebar dan kost social yang harus ditanggung pemda akan semakin meningkat” tandas Pimpinan Bank Riau Kepri cabang Selatpanjang tersebut (lan)