Saturday, Sep 22nd

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Oknum Manfaatkan Peralatan Tim

Oknum Manfaatkan Peralatan Tim

Hari Kedua Penelusuran Hulu Batang Kuranji

Masih belum kering lumpur yang menyelimuti kaki-kaki bukit di Batu Busuk. Jejak sepatu pun masih terukir di tanah yang lembab. Bunyi siulan angin terdengar di balik dedaunan. Di ujung jalan setapak itu terlihat tanah cokelat yang menimbun beberapa unit rumah semi permanen.

Atapnya roboh tergelatak di atas lumpur, pakaian, sendok, piring dan termos berserakan di sebelahnya. Hal itu terus terlihat di sepanjang jalan menuju PLTA Patamuan, Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Senin (17/9).

Tak jauh dari tempat itu, tumpukan kayu olahan yang sudah berbentuk papan di tertimbun di balik semak-semak. Tak hanya itu, mata pun tertuju pada pondok-pondok beratapkan rumbio, berukuran 3x3. Pintunya terlihat di kunci dengan gembok, di depannya terdapat kayu balok dengan panjang 3 meteran tersusun rapi, seperti sengaja ditinggal oleh pemiliknya.

Tak jauh kaki melangkah, di tengah beton di atas aliran PLTA Patamuan juga ditemukan tumpukan kayu berbentuk papan yang masih baru. Seolah-olah kayu itu sengaja dibiarkan agar orang mengira itu kayu hasil pembersihan sisa-sisa banjir.

Padahal siang itu, tim gabungan banjir bandang susulan sengaja menyusuri hulu Batang Kuranji untuk membersihkan kayu-kayu yang hanyut. Berbekal mesin sinsaw tangan-tangan nan berotot itu mulai menuntun mesin berantai tajam itu ke kayu-kayu besar yang berserakan itu.

Sesuai kesepakatan, mereka harus memotong kayu gelondongan itu dengan ukuran 50-60 cm, agar tidak menghambat arus sungai, dan tidak dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk dijadikan sumber penghasilan nan illegal.

Bagi tim gabungan banjir bandang susulan merupakan hari kedua bagi mereka untuk terus bekerja, dengan perbekalan seadanya mereka terus membersihkan kayu-kayu gelondongan.

Sebelumnya tim melihat ada kejanggalan pada alat-alat kerja mereka yang dititipkan ke salah satu pondok di kawasan bendungan. Hal itu terlihat dari mesin sinsaw, deriken BBM, dan adanya temuan tumpukan kayu baru di dalam sebuah ruangan di atas mesin bendungan.

Tumpukan kayu yang sudah berbentuk papan sepanjang 3-4 meter itu tersusun rapi dan terlihat masih baru. Diduga mesin sinsaw milik BPDD tersebut digunakan oleh oknum yang ingin memanfaatkan kayu gelondongan yang hanyut untuk diolah lagi menjadi kayu olahan yang bernilai jual.

Menurut Buya Idris, salah seorang anggota tim, penemuan kayu yang berbentuk papan tersebut diketahui pada pukul 10.30 WIB, saat semua tim dari posko Batu Busuk menuju ke atas bendungan.

“Saya terkejut kenapa tumpukan kayu ini bertambah banyak, padahal sebelumnya kayu olahan ini hanya sedikit, tapi sekarang bertambah banyak. Bekas potongannya pun masih terlihat baru,”ujarnya kepada Haluan Kepri.

Ia menambahkan, mesin sinsaw milik BPBD pun diduga dipakai oleh seseorang, untuk mengolah kayu gelodongan yang akan dibersihkan oleh tim gabungan. Hal itu terlihat dari hilangnya 2 deriken minyak, serta berkurangnya isi deriken oli. Tak hanya itu, gerigi rantai mesin pun tumpul, dan ada beberapa engkol mesin yang patah.

“Kita tidak bisa memastikan siapa yang menggunakan, namun dilihat dari bukti, mesin kita rusak habis dipakai, 2 deriken hilang, dan ada tambahan tumpukan kayu baru, meskipun kayu yang lama ini juga hasil penebangan liar yang sengaja di tinggal di sini,” tuturnya.

Hal yang sama juga dibenarkan oleh Didit, anggota BPBD. Didit mengatakan, tim akan berkoordinasi dengan yang lain. Karena tim terdiri dari beberapa instansi seperti TNI AD, Polhut, BNPB, BPBD, KSB, dan Basarnas.

“Kita tidak mau nanti disangka memanfaatkan kondisi yang ada. Seperti kayu ini, yang dijadikan papan dan dijual lagi untuk kepentingan pribadi,” ungkapnya.

Kejadian itu membuat tim gabungan berkordinasi dengan posko yang lain untuk mencegah terjadinya hal yang di luar tujuan tim tersebut. Selesai pembersihan di bendungan, tim berencana akan menuju Danau Kariang yang berjarak 6 kilometer dari bendungan.

Untuk kedua kalinya banjir bandang pada (13/9) lalu, meluluhlantakan Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Kejadian itu tak terlepas dari ulah para penebang liar yang terus membabat hutan. Meskipun banjir bandang pada jilid 1 pada 24 Juli yang lalu. Juga disebabkan oleh penebangan liar hutan, namun aktivitas penebangan terus terjadi, sehingga serapan air untuk pohon-pohon pun tidak ada, dan membuat tanah di bukit menjadi lunak dan longsor. (Rivo)