Dokter yang Tak Mau Lepas dari Pesawat
BANDUNG (HK)-Selain jadi pilot handal hingga di usianya memasuki 70 tahun, Marsekal Pertama TNI (Purn) dr Norman Togar Lubis juga adalah seorang dokter mata. Norman menjadi salah satu korban tewas dalam kecelakaan pesawat Bravo 202 di Bandung Air Show 2012, Sabtu (29/9).
Norman yang terakhir berpangkat Marsekal Pertama (Marsma) TNI AU menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran pada tahun 1978-1981. Kecintaannya pada dunia kedokteran ini diwujudkan dengan membuka Bandung Eye Center.
Tapi, di sisi lain Norman memiliki passion lain, dunia penerbangan. "Saya ingat pesan beliau. Katanya, dia tidak pernah mau lepas dari pegangannya itu, yakni menerbangkan pesawat," terang adik ipar Norman, Sony Hansadak di rumah duka Jalan Flores Nomor 4 Bandung, Sabtu.
Keluarga, kata dia, tidak bisa menghalangi hobi Norman yang satu itu. Bahkan, Norman punya pesawat latih pribadi sebagai koleksi. Pesawat inilah yang yang menjadi pelampiasannya untuk terbang di masa pensiun dari TNI AU.
Pengalaman mengenai sosok Norman juga diungkapkan oleh Komandan Lanud (Danlanud) Husein Sastranegara Kolonel (Pnb) Umar Sugeng Haryono. Menurut Sugeng, Norman merupakan sosok pemberani. Sejak di TNI AU, dia sudah menerbangkan pesawat Bravo buatan Swiss sejak tahun 1971 saat dimiliki TNI AU. "Jam terbang sudah ribuan jam, beliau sudah sangat handal. Ini takdir Illahi," kata Danlanud yang juga adik lighting Norman.
Tidak Diketahui Istri
Adik ipar Norman, Heri Sadak mengungkapkan, awalnya Norman tidak berniat terbang pada acara Bandung Air Show, Sabtu. "Istrinya bilang almarhum tadi waktu mau berangkat bilang nggak akan terbang," kata Heri di rumah duka. "Tapi mungkin karena dia (Norman) diajak temennya itu (Toni Hartono) terbang, akhirnya dia mau."
Pantauan di rumah korban hingga tadi malam, ratusan pelayat memenuhi bagian dalam dan halaman rumah. Puluhan bunga duka cita juga nampak dipampang di halaman dan Jalan Flores. Puluhan oraang sempat mengikuti shalat jenazah untuk Norman.
Di antara ratusan pelayat yang memenuhi rumah duka kemarin tampak pengusaha Arifin Panigoro. Menurut Arifin, almarhum adalah temannya sejak kecil. "Norman ini teman saya sejak kecil. Orangnya baik dan banyak teman dia," kata Arifin Panigoro.
Lepas sekolah dasar, Arifin melanjutkan, Norman sekolah di SMPN 2 Bandung dan kemudian di SMAN 2 Bandung pada tahun 50-an. Rumah keluarga Norman saat itu, kata dia, di Jalan Juanda (Dago). Sedangkan Arifin di Jalan Diponegoro. Lepas SMA tahun 1963, Norman kuliah di Fakultas Kedokteran Unpad dan aktif di Resimen Mahasiswa Mulawarman. Sedangkan Arifin kuliah di ITB.
"Dia dulu disukai perempuan dan ibu-ibu banyak yang suka karena dia keren. Isterinya juga kan cantik. Dulu dia sama saya sering ikut pesta-pesta," katanya.
Arifin mengaku tak ingat kapan terakhir bertemu mendiang. Yang jelas setiap tahun, dia selalu sering bertemu Norman. Dia mengaku mengetahui korban meninggal setelah dikontak salah satu keluarga. "Tadi siang saat dikontak saya sedang di Yogyakarta ada keperluan. Terima kabar Norman meninggal, saya langsung ke sini bersama istri dan adik ipar," katanya.
Norman Tagor Lubis lahir di Banda Aceh pada 22 Oktober 1943 atau 69 tahun lalu. Norman tumbuh dewasa di Bandung. Selulus dari SMA Negeri 2 Bandung, dia kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran pada awal 1960-an hingga lulus 1972. Setelah mendapat dokter untuk bagian kesehatan mata, dia bergabung dengan TNI Angkatan Udara pada 1973.
Norman kini adalah dosen luar biasa Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad) dan Universitas Maranatha Bandung. Di bidang kedokteran, Norman yang beroleh gelar Dokter Spesialis Mata pada 1981, antara lain sempat menjabat sebagai staf RS Mata Cicendo, Bandung dan Kepala Bagian Dokter Mata RS M Salamun Lanud Husein. Pangkat mendiang terakhir di TNI AU adalah Marsekal Pertama. Jabatan terakhir semasa bertugas di TNI AU adalah Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) TNI AU yang juga bermarkas di Bandung.
Dari istrinya, Tien Lubis, Norman dikaruniai beberapa anak. Tiga diantaranya adalah Nashia Yohara Lubis,38 tahun, Nanda Anisa Lubis,32 tahun, dan Nyndya Zanaria Lubis,27 tahun. Norman juga disebut-sebut sebagai pemilik klinik Bandung Eye Center Jalan Sumatera.
Toni Pilot Pesawat Tempur Handal
Sementara itu, Letkol Penerbang TNI AU (Purn) Toni Nugroho (37) dikenal sebagai pilot TNI AU yang mahir dalam menerbangkan berbagai pesawat tempur. "Beliau itu adalah seorang flying fighter, penerbang tempur," kata Direktur Bandung Pilot Academic (BPA) M Nasrun Natsir, di Bandung, Sabtu (29/9).
Ditemui usai mengunjungi korban di Ruang Forensik RSUP Hasan Sadikin Bandung, Nasrun mengatakan, korban sebagai salah satu yang terbaik yang dimiliki Indonesia dan diketahui mahir dalam menerbangkan beberapa pesawat tempur seperti pesawat jenis Hawk 200, MK 53 dan Sky Hawk A4.
"Beliau (Toni) merupakan ikatan dinas pertama (IDP) angkatan VI pada 1989 kemudian pernah bertugas di Pangkalan Udara (Lanud) Makassar (Sulawesi Selatan) dan Lanud Iswahyudi Madiun, Jawa Timur," katanya.
Selain itu, kata dia, Toni sudah hampir setahun aktif mengajar di Bandung Pilot Academic dan Jogja Flying School. Dia menjelaskan, pada tahun lalu Toni mengajukan permohonan pengunduran diri dari TNI AU. (vv/tc/ant)