Monday, Oct 08th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Bedah Buku "Menjaga Indonesia dari Kepri"

Bedah Buku "Menjaga Indonesia dari Kepri"

Upaya Membangun Pagar Kokoh di Perbatasan

TANJUNGPINANG (HK)- Permasalahan wilayah perbatasan sampai sekarang masih hangat dibicarakan. Dalam beberapa tahun terakhir, isu perbatasan pun tak hanya selesai di meja diskusi, namun telah menjadi bagian terpenting bagi masyarakat dan pemerintah sebagai upaya untuk menjaga kedaulatan bangsa.

Provinsi Kepri merupakan salah satu provinsi kepulauan yang memiliki 19 pulau terdepan. Wajah Kepri yang mirip dengan 11 provinsi kepulauan lainnya di Indonesia, memaksa pemerintah daerah harus bekerja keras untuk menjaga pulau-pulau yang berbatasan dengan negara tetangga.

Salah satu strategi untuk mendorong pemerintah pusat peduli dengan provinsi kepulauan ditulis dalam buku berjudul "Menjaga Indonesia dari Kepri" oleh Nikolas Panama dan Trisno Aji Putra dua jurnalis di Kepri, yang didukung pula oleh Dr Achmad Nurmandi, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Muhamadiyah Yogyakarta (UMY).

Buku tersebut, Rabu (3/10) kemarin dibedah oleh kalangan akademisi, mahasiswa, organisasi kemasyarakat dan birokrat di Tanjungpinang.

"Buku ini milik Badan Pengelolaan Perbatasan Kepri yang ditulis oleh Nikolas, Trisno Aji dan Achmad Nurmandi," kata Sekretaris Badan Pengelolaan Perbatasan Kepri, Sukardi.

Buku ini, kata dia, juga akan dipamerkan di pusat dan digunakan sebagai bahan kajian dalam rangka untuk mengambil kebijakan. Di dalam buku itu diceritakan bagaimana sulitnya untuk membangun pagar yang kokoh, perekonomian yang maju dan sistem keamanan yang kuat di kawasan perbatasan.

"Buku ini sangat bermanfaat bagi kemajuan kawasan perbatasan," katanya

Nikolas, salah satu penulis mengatakan, buku "Menjaga Indonesia dari Kepri" menceritakan kondisi 19 pulau terdepan di Kepri, mulai dari potensi, ancaman dan tantangan ke depan yang dihadapi masyarakat dan pemerintah. Selain itu, juga menceritakan secara singkat bagaimana kehidupan warga yang tinggal di beberapa pulau terdepan.

Menurutnya, pulau-pulau terdepan di daerah ini memiliki potensi di sektor pariwisata, meski sebagian pulau tidak memiliki sumber air bersih. Posisi strategis pulau terdepan, seperti Pulau Nipah, yang setiap hari dilalui kapal tanker juga dapat dijadikan sebagai tempat labuh jangkar.

"Namun di balik potensi itu, terdapat ancaman akan hilangnya pulau tersebut yang disebabkan abrasi dari gelombang laut yang dilalui kapal tanker dan pemanasan global," kata Nikolas.

Ditambahkan Trisno Aji Putra, buku ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan rujukan pemerintah daerah dan pusat. Persoalan perbatasan antara Kepri dengan Malaysia dan Singapura harus dituntaskan, karena itu sebagai dasar untuk mengawal kedaulatan Indonesia.

"Kami berharap buku ini dapat mendorong pemerintah pusat untuk memperhatikan Kepri, dan 11 provinsi kepulauan lainnya," ujarnya.

Dalam buku ini disebutkan, Kabupaten Natuna memiliki tujuh pulau terdepan yaitu Pulau Tokong Boro, Pulau Semiun, Pulau Sebetul, Pulau Sekatung, Pulau Senoa, Pulau Subi Kecil dan Pulau Kepala. Sedangkan Pulau Tokong Malang Biru berada di Kabupaten Kepulauan Anambas, Pulau Damar, Pulau Mangkai, Pulau Tokong Nanas, dan Pulau Tokong Berlayar.

Sementara Kabupaten Karimun memiliki pulau terdepan yaitu Pulau Karimun Kecil dan Pulau Hiu Kecil. Pulau Nipah, Pulau Pelampong, Pulau Batu Berhenti, dan Pulau Nongsa berada di Batam. Kabupaten Bintan hanya memiliki satu pulau terdepan yaitu Pulau Sentut. Hanya Lingga dan Tanjungpinang yang tidak memiliki pulau terdepan

"Nasionalisme di perbatasan harus dikawal dan dapat dimulai dari hal-hal kecil yang bermanfaat," katanya.

Mencermati perbatasan negara saat ini, menurut Trisno Aji, setidaknya ada dua bentuk, yakni perbatasan yang dibentuk oleh alam, maupun perbatasan buatan. Untuk perbatasan buatan, di antaranya bisa dilihat Tembok Berlin yang menjadi pemisah Jerman Barat dan Jerman Timur, sebelum dihancurkan pada 1989 lalu. Sementara untuk perbatasan alam, dapat dilihat dalam sejumlah bentuk.

Selain perbatasan darat, juga ada perbatasan yang dibentuk oleh sungai, perbatasan yang berbentuk pegunungan, perbatasan berupa lautan dan terakhir adalah perbatasan negara di udara. Pembuatan batas wilayah sendiri bisa ditempuh melalui serangkaian perundingan. Namun demikian, sampai saat ini, masih ada sejumlah batas wilayah yang belum selesai dibahas dalam perundingan bilateral antardua negara yang bertetangga tersebut.

"Hal ini contohnya adalah antara Indonesia dengan Singapura, untuk batas wilayah yang ada di sekitar antara Pulau Bintan dengan Singapura dan Pulai Karimun Besar dengan Singapura," katanya. (rul)