Sunday, Oct 14th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Peringatan Bom Bali

Peringatan Bom Bali

Share

Saatnya Memaafkan

BALI (HK)-- Peringatan 10 Tahun Bom Bali berjalan lancar di Lotus Pond Garuda Wisnu Kencana (GWK), Jumat, (12/10).

Peringatan Bom Bali I ini, korban beserta keluarga serta masyarakat Bali diminta untuk memaafkan dalang dari tragedi kemanusiaan yang meregang lebih dari 202 nyawa itu.

Perdana Menteri Australia Julia Gillard dalam pidato singkatnya menegaskan bahwa kehadiran ribuan keluarga dan kerabat korban bersama beberapa korban merupakan hal yang luar biasa. “Kini saatnya kita menata kehidupan lebih baik lagi,” katanya.

Dalam peringatan yang dihadiri sekitar 2.000 orang itu tidak ada ledakan atau pun teror seperti ancaman yang diterima kepolisian beberapa waktu lalu.

Selain Gillard, mantan Perdana Menteri John Howard hadir di acara itu. Ada juga Tony Abbot selaku Ketua Oposisi Australia dan Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa. Gubernur Bali Made Mangku Pastika turut hadir.

Semuanya sepakat bahwa apa pun latar negara dan agama, hal tersebut tidak menjadi soal. Semuanya adalah satu dan bekerja sama untuk memerangi aksi teroris di seluruh dunia.

Gillard juga mengapresiasi segala kerja keras pemerintahan PM John Howard kala itu yang telah memperhatikan keluarga korban.

Gillard juga memuji Pastika yang saat itu menjabat Kepala Kepolisian Daerah Bali. Pastika dianggap berhasil menangkap kelompok teroris yang beraksi di Bali 12 Oktober 2002. Dengan keberhasilan itu, masyarakat percaya bahwa hukum telah ditegakkan melalui penghukuman bagi pelaku.

Melupakan tragedi pengeboman itu, kata Gillard, bukanlah hal yang mudah. Dalam prosesnya, hal ini sangat sulit dilakukan. Namun, dengan peringatan ini, Gillard mengajak masyarakat untuk memaafkan dan mengulang kembali kerja sama dengan cara yang lebih baik.

Howard juga mengungkapkan hal yang sama. Menurut Howard, korban yang tewas tidak akan pernah terlupakan. Meskipun banyak anak muda mereka yang menjadi korban dalam Bom Bali 2002, warga Australia akan tetap berlibur dan menikmati fasilitas pariwisata di Bali.

Marty, yang mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam sambutannya mengatakan bahwa aksi-aksi teroris hanya menguji tekad dan ketahanan bangsa Indonesia. “Demokrasi di Indonesia makin kuat dan ini menjadi respons atas serangan mereka. Saat ini kita membuktikan bahwa kita berhasil,” ujar dia.

Sama seperti Gillard, Pastika sudah lebih dulu mengajak warga untuk lebih memaafkan daripada tetap menyimpan dendam. “Di tahun ke-10 ini, mari kita maafkan perbuatan mereka agar kehidupan kita lebih baik. Kita akan buktikan bahwa aksi teroris mereka akan gagal,” katanya.

Sayangnya, beberapa keluarga dan korban yang datang mengaku sulit untuk memaafkan pelaku.

Keluarga Amrozi Minta Maaf

Ali Fauzi (42) mewakili keluarga besar terpidana mati bom Bali, Amrozi dan Ali Ghufron, meminta maaf kepada seluruh korban tragedi Bom Bali. “Kami meminta maaf sebesar-besarnya,” kata Ali Fauzi.

Menurut Ali, permohonan maaf keluarga besarnya yang bermukim di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, itu disampaikan berkaitan dengan peringatan 10 tahun tragedi Bom Bali.

Selain meminta maaf, keluarga besarnya juga berharap tidak ada lagi peristiwa pengeboman di Indonesia.

Ali Fauzi mengatakan, aksi pengeboman hanya menimbulkan penderitaan bagi keluarga korban yang ditinggalkan. Dalam tragedi Bom Bali ada seorang ustad yang melaksanakan syiar Islam ikut menjadi korban. Beberapa waktu lalu, Ali Fauzi telah bertemu dengan istri sang ustad, Nyonya Laksmi, beserta anak-anaknya.

Ali Fauzi, yang merupakan adik Ali Ghufron dan Amrozi, menyatakan tidak sepakat apabila gerakan menentang Amerika dan Israel dilakukan dengan aksi kekerasan. Sebab, dampaknya ternyata mengorbankan nyawa orang-orang yang tidak berdosa. Salah satu contoh konkret adalah aksi Bom Bali.

Ali Fauzi juga menyatakan, dalam perkembangannya, sejumlah temannya sesama alumni Afganistan, Moro, Ambon, dan Poso sudah mulai mengubah konsep berjihad tanpa menggunakan kekerasan. Jihad dengan cara kekerasan hanya memunculkan kontraproduktif dan memunculkan sikap tidak simpatik masyarakat.

Ali Fauzi juga memaparkan bahwa sejumlah kasus kekerasan yang terjadi di Solo, Depok, dan Tambora, dilakukan bukan oleh alumni Afganistan, Moro, dan Ambon. Pelakunya justru anak-anak muda yang hanya ikut-ikutan pelatihan sekitar 1-2 pekan. Akibat kurangnya pembinaan dan tidak tersentuh pemerintah, mereka melakukan gerakan kekerasan.

Atas fakta itulah Ali Fauzi meminta pemerintah lebih peka terhadap para mantan alumni Afganistan dan Moro, yang jumlahnya cukup banyak dan tersebar di Indonesia. Sebab, pengalaman dan kemampuan mereka bisa dimanfaatkan pemerintah untuk kepentingan yang positif.

Ali Fauzi mencontohkan Ali Imron, yang juga berperan penting dalam aksi Bom Bali. Dalam lima tahun terakhir, Ali Imron cukup berperan dalam proses penyadaran gerakan anti-kekerasan.

Ali Imron, yang juga kakak Ali Fauzi, banyak membantu pemerintah dalam program deradikalisasi di Indonesia. Itu sebabnya, Ali Fauzi berharap pemerintah bisa memberikan keringanan hukuman kepada Ali Imron, yang kini menjadi terpidana seumur hidup. “Ya, tidak ada salahnya Mas Ali Imron tidak harus menjalani masa hukuman seumur hidup,” ujar Ali Fauzi. (tmp/dtc)