Monday, Oct 15th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Forum Garuda Muda Picu Kemunculan Figur-figur Muda

Forum Garuda Muda Picu Kemunculan Figur-figur Muda

Share

JAKARTA-Kemunculan forum tokoh muda seperti Forum Garuda Muda diyakini akan memicu forum-forum sejenis yang mencoba menerobos terhambatnya proses regenerasi kepemimpinan nasional maupun daerah.


Forum Garuda Muda digagas oleh lima tokoh muda nasional dari berbagai bidang keilmuan. Mereka adalah Bima Arya Sugiarto dari bidang politik, Anindya Bakrie (pengusaha), Mayor Inf Agus Harimurti Yudhoyono (militer), Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf (pemerintahan), dan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Raja Sapta Oktohari.

"Kita kekurangan pemimpin sehingga yang muncul itu-itu saja. Kita harus mengakui itu," ujar Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro dalam keterangan persnya, Jumat (12/10).

Dia menilai forum-forum semacam ini diperlukan di tengah akumulasi kepemimpinan Indonesia yang mengalami krisis kader. Menurutnya, saat ini parpol yang ada tidak mampu memunculkan kader-kader terbaik. Dan yang dimunculkan justru kader karbitan. "Tidak apa-apa forum-forum ini tumbuh. Jadi menurut saya komunitas semacam itu dibutuhkan," terangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, lima tokoh muda nasional ini bertemu di Bandung untuk membangun Forum Garuda Muda pada Selasa (9/10) lalu. Dalam pertemuan itu mereka mendiskusikan masalah kebangsaan yang lebih banyak berorientasi pada persoalan bersifat aktual.

Dalam waktu dekat, kelima tokoh muda ini akan kembali bertemu untuk mematangkan sejumlah gagasan menjadi agenda aksi yang lebih konkret. Mereka juga menjadwalkan roadshow ke sejumlah daerah untuk membangun jaringan dan komunikasi intensif dengan kalangan muda.

Terkait peluang generai muda ke depan melaui forum garuda muda ini, Wiwik, sapaan akrab Siti Zuhro, memprediksi baru akan terlihat di 2019. Menurutnya, mereka akan lebih berkonsentrasi di 2019 dan di 2024 akan lebih terlihat.

Sementara di 2014 ini akan ada semacam penirisan gerenasi-generasi yang gagal di 2009. Setelah 2014 karena estafeta na belum konkreet mulai ada kesadaran rakyat di pilpres 2019 nanti. "Tidak tertutup kemungkinan di 2025 ini akan ada regenerasi baru, wajah baru, paradigma yang baru dengan orientasi yang positif," tandasnya.

Bisa Jadi Pemimpin Nasional

Sebelumnya, Bima Arya Sugiarto mengatakan Indonesia membutuhkan pemimpin profesional yang mau bekerja keras untuk bangsa dan negara. Dan tidak tertutup kemungkinan, kalangan muda bisa menduduki jabatan pemimpin nasional.

"Anak-anak muda bisa menjadi pemimpin nasional. Oleh karena itu, kalangan muda harus bergerak lebih cepat demi kemajuan Indonesia," jelas Ketua DPP PAN itu.

Menurut Bima, tidak tertutup kemungkinan kalangan muda bisa merebut jabatan pemimpin nasional yang sekarang ini calon-calonnya didominasi oleh kelompok tua. Supaya siap, kalangan muda bisa memulai memimpin dari level kepala daerah. "Kaum muda harus siap, kapan pun itu," lanjut Arya Bima.

Paling tidak, pada 2024 mendatang, kaum muda bisa memegang kendali di Indonesia. Namun untuk mencapai itu semua, kalangan muda harus bergerak lebih agresif. Tentu saja, dengan dukungan semua elemen masyarakat. Perubahan politik nasional, akan lebih baik bila kelas menengah bangkit menjadi roda penggerak perubahan.

Hal serupa juga dikemukakan tokoh muda Jabar Dede Yusuf. Menurutnya, kalangan muda harus siap atas perubahan perubahan politik. Termasuk ketika, kalangan muda diberi kepercayaan menjadi kepala daerah. Namun, itu semua bisa teruwjud apabila kaum muda giat menggali pengalaman.

"Semua ada prosesnya. Kemunculan kaum muda, tak lepas dari kerja kerasnya dalam menggali pengalaman," ujar Dede Yusuf yang menjabat Wakil Gubernur Jawa Barat.

Optimisme Indonesia yang lebih baik, juga ditegaskan pengusaha muda Anindya Bakrie. Dunia usaha memiliki optimisme untuk Indonesia yang lebih baik. Optimisme itu sejalan dengan potensi ekonomi yang diperkirakan akan jauh lebih baik pada beberapa tahun kedepan. Sejumlah ekonom memprediksi, Indonesia akan menjadi penyokong ekonomi dunia.

"Menjadi tanggungjawab bersama untuk membesarkan Indonesia. Semua itu memang perlu dilewati dengan proses. Sehingga pada akhirnya, pemuda memiliki daya saing yang tangguh," katanya.

Bagi tokoh muda yang berkarir di militer Agus Harimurti Yudhoyono, kebangkitan kalangan muda tidak serta merta diraih begitu saja. Semua diraih melalui proses panjang dengan kerja keras dan profesionalisme individual.

"Di negara demokrasi, tidak ada istilah dinasti politik. Karena semua individu memiliki kesempatan berkompetisi dengan kemampuannya masing-masing," ujarAgus.

Namun demikian, tumbuhnya generasi muda di kancah politik nasional dengan background pengusaha, mestinya tidak menanggalkan kewajibannya sebagai pengusaha. Menurut Ketua Hipmi Raja Sapta Oktohari, pengusaha muda tetap harus fokus mengembangkan ekonomi nasional lewat usahanya.

Indonesia, lanjut dia, selain membutuhkan pemimpin politik, juga membutuhkan pelaku ekonomi yang bisa berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi masyarakat. "Politikus sudah banyak. Tidak ada salahnya, generasi muda memajukan Indonesia melalui pengembangan wirausaha. Nanti kalau sudah mapan, tidak masalah terjun ke politik," imbuh dia.

Gagasan Forum Garuda Muda, lanjut dia, diharapkan menjadi langkah awal kalangan muda memajukan Indonesia. Langkah tersebut bisa ditempuh, apabila semua elemen masyarakat terutama kalangan muda, bersatu dan saling mendukung. Forum tersebut, diharapkan bisa terus berlanjut dengan gagasan lainnya. (oke/tri)