Berjejer sepanjang jalan lintas Sumbar-Riau, mulai dari wilayah Kabupaten Agam, Kota Bukittinggi, Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Itulah deretan pedagang aneka keripik berbahan dasar ubi kayu. Jumlahnya ratusan. Ada berupa kios hingga ruko tiga lantai. Mereka hanyalah sekelumit kecil sasaran Bupati Sijunjung, Drs H Yuswir Arifin MM yang sejak akhir tahun lalu mencanangkan program bertanam ubi secara massal bagi warganya.
Kesannya memang tidak populis, tapi realistis. Sesuai dengan kondisi alam, kemampuan dan kemauan masyarakat serta pasar yang sangat menjanjikan. Inilah yang menjadi dasar dan alasan utama mengapa Yuswir Arifin, mengajak warganya menanam ubi kayu di lahan-lahan yang selama ini tidak terproduktifkan. Program bertanam ubi kayu secara massal dicanangkan bupati kelahiran Muaro Takung, 8 September 1955 itu pada tanggal 25 Oktober 2011, atau setahun yang lalu.
Ratusan pedagang dan pengrajin keripik berbahan dasar ubi kayu terutama di wilayah Agam, Bukittinggi, Payakumbuh dan Lima Puluh Kota yang membutuhkan puluhan ton ubi setiap hari hanyalah bagian kecil dari pasar besar ubi kayu yang dibidik oleh Yuswir dan Pemkab Sijunjung pada umumnya. Mantan Wakil Bupati Sijunjung ini memang telah jauh melangkah maju menggali potensi pasar ubi kayu di tanah air, bahkan luar negeri. Karena pasar dalam negeri masih sangat menjanjikan, maka tahap awal Pemkab Sijunjung menjadikan market domestik ini sebagai garapan prioritas.
“Sejauh ini pabrik-pabrik kertas dan triplek di daerah tetangga kita Riau yang membutuhkan ratusan bahkan ribuan ton tepung tapioka (tepung ubi kayu) perbulan masih mengimpor dari Thailand. Sayang, negeri kita yang subur dan luas ini, mengimpor ubi kayu dari Thailand. Inikan peluang emas yang tak boleh disia-siakan,” kata Yuswir Arifin, alumni Fakultas Ekonomi Universitas Andalas angkatan 1975 ini kepada Haluan di Kantor Bupati Sijunjung, beberapa hari yang lalu.
Yuswir beberapa waktu yang lewat juga telah menyertakan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait, camat dan wali nagari berkunjung ke pabrik tepung tapioka berskala besar di Lampung. Tujuan salah satunya adalah untuk memastikan apakah perusahaan tepung tapioka tersebut bersedia menampung hasil panen ubi kayu petani Sijunjung ketika telah panen nantinya. Selain itu juga untuk mengetahui prospek bercocok tanam ubi ke depan. Sejumlah staf juga telah ditugaskan melakukan studi banding ke Kabupaten Pati Jawa Timur guna menggali lebih dalam tentang proses dan cara bercocok tanam bibit ubi kayu yang unggul.
“Prabrik tapioka di Lampung telah menjamin. Beberapa pun banyaknya ubi kayu hasil panen di Sijunjung akan ditampung mereka. Jadi masyarakat tak perlu ragu lagi. Bahkan juga telah ada dua investor yang siap membuka pabrik tapioka di Sijunjung. Syaratnya, harus ada jaminan produksi ubi kayu yang cukup dari masyarakat Sijunjung,” kata mantan Wakil Bupati Sijunjung ini.
Yuswir menjelaskan, ubi kayu yang paling cocok untuk kondisi Sijunjung adalah jenis casesa. Ubi jenis ini rasanya pahit dan rasanya baru akan normal dua hari setelah panen. Dengan kareteristik ubi kayu casesa, maka bisa dipastikan akan terbebas dari hama babi yang biasanya sangat menghantui petani, khususnya yang bertanam ubi. Jika dikelola secara tradisional, satu hektar ubi kayu casesa akan bisa menghasilkan sekitar 30 ton per hektar. Sedangkan kalau dikelola dengan baik, sesuai dengan anjuran dari Dinas Pertanian yang juga telah diterapkan di daerah-daerah yang telah berhasil bercocok tanam bibit casesa, akan bisa menghasilkan 50-60 ton perhektar.
Jangka masa tanam ubi jenis casesa hingga panen memakan waktu sekitar 7-8 bulan. Harga sekarang Rp850 per kg atau Rp850.000 per ton. Jika hasil panen mencapai 60 ton dalam satu hektar, dikalikan dengan harga pasaran Rp850.000 ton, maka akan menghasilkan Rp51.000.000.
Dikurangi biaya produksi sekitar Rp11 juta. Maka tersisa Rp40 juta. Jika dibagi delapan bulan, maka petani bisa menghasilkan Rp5 juta per bulan. Kalau petani punya lahan dua hektar, maka bisa berpenghasilan Rp10 juta per bulan.
“Saya pikir hasilnya cukup besar. Apalagi tanaman ubi tak perlu perawatan setiap hari. Sekali seminggu saja cukuplah. Jika sekeliling kebun dipagar, tentu akan lebih aman lagi. Pilihan lain juga ada ubi jenis biasa yang rasanya manis. Hasil panennya bisa mencapai 100 ton per hektar dan bisa langsung dipasarkan untuk bahan pembuat keripik. Tapi tak bebas hama babi,” kata Bupati Sijunjung yang ke-18 ini.
Ekstremnya, bila masih ada masyarakat petani Kabupaten Sijunjung yang ragu atau ubi kayu hasil panennya tidak ada yang mau membeli, bupati mempersilakan masyarakat itu mengantarkan ubi kayu itu ke kediamannya. “Nanti jika tidak ada yang mau membeli, antarkan ke rumah saya. Saya yang akan membelinya. Saya sudah siap pasang badan. Kapan perlu saya siap dipanggil dengan julukan bupati ubi kayu. Demi kesejahteraan masyarakat, saya siap menerima resiko apa pun,” katanya menandaskan. (erz)
- Sekolah Kami Tak Punye Halaman Bermain
- Forum Garuda Muda Picu Kemunculan Figur-figur Muda
- Peringatan Bom Bali
- Angie Seret Anas
- H Basrizal Koto, Terus Mengabdi
- Helikopter pun Berciuman
- Ujang Mengaku Siap Menikahi Rosma
- Bedah Buku "Menjaga Indonesia dari Kepri"
- Terkesima dengan Pariwisata Kamboja
- Pilu Nelayan Batam di Pulau Bokor