Sabtu11032012

Last update12:00:00 AM

Back Insert Laksamana Cheng Ho Perpaduan Dua Budaya

Laksamana Cheng Ho Perpaduan Dua Budaya

Share

Akan Pentas di Batam

BATAM CENTRE (HK)- Keberadaan Laksamana Cheng Ho di Indonesia meninggalkan sejumlah bangunan tua yang menyebar di Jawa mau pun di wilayah Sumatera. Di antaranya Masjid, Klenteng serta sejumlah benda bersejarah lainnya.

Laksaman Cheng Ho dari Dinasti Ming masuk di Indonesia melalui Selat Malaka sekitar tahun 1405, dengan membawa misi diplomasi yang merupakan utusan dari Kaisar Tiongkok. Saat itu, Laksamana Cheng Ho sudah menganut agama Islam. Kehadirannya di Indonesia, dengan membawa ribuan pasukan menggunakan ratusan kapal kayu.

Konon kabarnya, banyak pasukan di bawah komando Laksaman Cheng Ho akhirnya memilih untuk mempersunting dengan wanita warga negara Indonesia.

Cerita tentang perjalanan Laksamana Cheng Ho yang sangat terkenal ini akan ditampilkan dalam pameran 'the Legacy of Zheng He' atau yang dikenal dengan warisan seni budaya Cheng Ho di Kepri Mall, Batam dari 2-4 November mendatang. Rencananya, akan dihadiri oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) RI, Sapta Nirwandar.

Selain cerita Laksamana Cheng Ho, acara yang didukung oleh Kementerian Pariwisata RI ini juga akan menampilkan festival budaya Tionghoa, Sejarah Tionghoa di Indonesia, Batik peranakan asli indonesia, pakaian adat suku Tionghoa, Karya seni antik, peragaan busana peranakan, serta festival persahabatan dan kecantikan anak.

Direktur Arya Patha Nusantara Group, Hardi sebagai pelaksana kegiatan ini mengatakan, acara ini sangat cocok untuk melihat perjalanan warga Tionghoa di Indonesia.

"Baru kali ini pemerintah RI mendukung terlaksananya pergelaran perpaduan seni budaya Indonesia-Tionghoa. Acara kali ini, banyak hal yang akan dipamerkan, termasuk lagu-lagu tradisional Indonesia yang akan dibuat dalam versi Tionghoa," kata Hardi, Rabu (31/10).

Dikatakan Hardi, secara umum acara ini merupakan perpaduan antara budaya Tioghoa dengan Indonesia. Bahkan dalam beberapa acara seperti penyambutan akan dikemas dalam perpaduan budaya Tionghoa dan Indonesia. Dimana, tamu akan disambut dengan tari Reok Ponorogo Jawa Timur dan Barongsai.

Silvianti, pemilik Silhoutte Modeling Schooling yang juga sebagai panitia mengatakan, acara ini akan menjadi ajang untuk mempromosikan Batik Batam. Kata dia, sekitar 1.500 model akan tampil selama tiga hari dalam mempromosikan tiga busana yakni, Cheong Sam Batik, Kebaya Encim dan Kebaya Oriental.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Kepri, Guntur Sakti menyatakan sangat mendukung iven ini. Sekaligus Guntur juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada pihak Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI atas dukungannya.

Menurut mantan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam ini, iven dengan menampilkan perpaduan seni budaya Indonesia dengan Tionghoa ini, akan sangat efektif untuk menarik wisatawan manca negara, bila terus dikemas dengan baik.

"Kegiatan ini, moment yang sangat tepat untuk mempromosikan Batik Batam. Karena model yang ikut dalam peragaan busana akan menggunakan Batik Batam. Kita berharap wisatawan manca negara akan terus meningkat dengan adanya ivent-iven seperti ini,"pungkas Guntur.

Kabid Sarana dan Objek Wisata Disparbud Kota Batam, Rudi Panjaitan mengungkapkan, selain untuk memperkenalkan Batik Batam, acara ini juga untuk mempertahankan warisan budaya Indonesia. Dia berharap acara ini dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya, demi menarik wisatawan. (lim)