Sabtu11102012

Last update12:00:00 AM

Back Insert Budaya Makan Bersama yang Tak Hilang

Budaya Makan Bersama yang Tak Hilang

Share

Makan Bersama sudah menjadi budaya di kalangan masyarakat Kabupaten Kepulauan Anambas sejak dahulu kala. Budaya ini tidak pernah luntur, meskipun arus globalisasi sedemikian derasnya.

Budaya merupakan yang paling banyak menerima pergeseran. Di kota-kota besar, makan bersama hanya untuk tamu agung. Seperti pimpinan daerah, SKPD, Kementrian dan tamu-tamu besar lainnya.

Dalam budaya makan bersama, orang yang ikut rombongan makan bersama akan berbaris antre untuk mengambil makanan yang sudah disiapkan di meja. Pemandangan ini terjadi hampir di seluruh desa di Kepulauan Anambas. Semua serba ringkas dan cepat. Tak banyak silaturhami terjalin antara tamu dan masyarakat.

" Tamu agung akan dilayani oleh kepala desa atau kepala adat. Sedangkan rombongan memilih berkelompok sesarama mereka setelah mengambil makanan di meja. Inilah pemandangan yang kita lihat di banyak acara jamuan makan di pusat kota," katanya.

Namun hal ini tidak ditemukan di Desa Air Biru Kecamatan Jemaja. Desa yang berada di Selatan Pulau Jemaja ini, terus mempertahankan budaya Melayu. Ditengah tergurasnya degradasi budaya di Anambas. Seiring dengan masuknya budaya luar yang semakin simple.

"Ini budaya Melayu yang terus dilaksanakan di Tanah Air Biru ini. Alhamdulilah kami masih bisa mempertahankannya,"tutur M.Zen, salah seorang tetua masyarakat Air Biru.

Tradisi makan bersama ini sangat memuliahkan tamu. Dimana tamu disediakan tempat makan di satu ruangan. Kemudian, diletakan hidangan berkompak. Satu kelompoknya minimal empat orang dan bisa saja bertambah. Bila tamu mengingingkan membuat lingkaran lebih besar. Tentunya tuan rumah tetap melayani suasana makan tamu-tamu desa.

Dengan alasan tidak banyak membutuhkan tempat dan tenaga. Hidangan prasmanana telah menjamur dan terus mendominasi hidangan makan di Anambas. Sementara makan bersama dengan hidangan lasehan dilupakan terutama pada acara-acara resmi.

"Kita lihat di kota memang seperti itu. Tamu mengambil sendiri makanan, lalu mencari tempat makan sendiri. Tanpa ada ditemani tuan rumah. Ini jauh dari nilai silaturahim dalam memuliakan tamu. Apalagi itu tamu jauh. Jika kita tidak ramah, tentu mereka tidak mau datang lagi,"tutur Zen.

Memang hanya sebuah jamuan makan. Apalah artinya makan di desa. Bila di kota makanan jauh lebih enak dan banyak pilihan. Makan bersama orang desa bagi sebagaian orang belum tentu enak. Tapi tradisi makan bersama dalam mempererat jalinan silaturahim. Merupakan jalinan kasih antara pemimpin dengan rakyatnya. Betapa banyak kearaban yang terjadi di jamuan makan.

Barangkali tradisi ini dapat dipertahankan bagi masyarakat Anambas. Karena hampir seluruh desa di Anambas merupakan wilayah potensial untuk pariwisata dan menarik wisatawan untuk mengunjungi. Baik itu wisata bahari maupun alam bagi desa yang berada di daratan. Alangkah lebih baik jika potensi ini menawarkan kekuatan sebuah budaya lokal. Apalagi sebuah tradisi keramahan yang memuliakan orang lain.(yul)