Senin12212015

Last update12:00:00 AM

Back Insert Pengibaran Bendera di Karimun Raih Rekor MURI

Pengibaran Bendera di Karimun Raih Rekor MURI

Pengibaran bendera raksasa ukuran 50x30 meter atau 1.500 meter persegi yang dikibarkan dari dasar laut Karimun saat perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-70Sayang, Bendera Raksasa itu Robek

KARIMUN (HK)- Pengibaran bendera raksasa ukuran 50x30 meter atau 1.500 meter persegi yang dikibarkan dari dasar laut Karimun saat perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-70, Senin (17/8) di perairan Coastal Area Tanjungbalai tidak berlangsung sempurna.

Bendera raksasa itu sudah robek duluan dan terbagi dua.

Robeknya bendera raksasa itu, berawal ketika bendera yang mulai muncul ke atas permukaan laut tiba-tiba dibawa angin yang luar biasa kencang ke arah pagar pembatas di kawasan Coastal Area. Saat itu, bendera sempat tersangkut dekat pagar dan menyambar warga yang berada di sana.

Begitu bendera mulai mengarah ke darat, para kru yang berada di atas kapal segera menarik bendera mengarah ke tengah laut. Namun sayang, secara perlahan-lahan sobekan bendera itu kian membesar hingga membelah jadi dua. Bendera akhirnya berkibar dengan kondisi terpotong jadi dua.

Meski begitu, ribuan masyarakat Karimun tetap antusias menghadiri pengibaran bendera raksasa yang mampu memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) itu. Sebagian dari mereka ada yang kecewa, namun lebih banyak memberi apresiasi atas pemecahan rekor MURI pengibaran bendera terbesar dari dasar laut yang dilaksanakan di Karimun itu.

Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI A Taufiq R mengatakan, rasa patriotisme bangsa, khususnya masyarakat yang berada di wilayah perbatasan seperti di Karimun sangat besar. Hal itu ditandai dengan hadirnya ribuan masyarakat saat upacara detik-detik proklamasi.

"Kita tunjukkan pada dunia luar, bahwa sterotip daerah perbatasan yang terbelakang dan rasa nasiolismenya kurang tidak benar. Bisa dibuktikan sekarang bagaimana antusiasme masyarakat di bawah kepemimpinan bupati didukung oleh semua elemen, baik itu TNI-Polri. Seluruh elemen masyarakat di Karimun gembira ketika ada bendera yang begitu besar muncul dari laut dan berkibar di angkasa Karimun," kata Taufiq.

Menurutnya, persiapan pengibaran bendera raksasa itu hanya butuh waktu selama tiga hari, mulai dari menjahit, kemudian melihat kedalaman air hingga mengatur posisi. Namun, selama tiga hari itu dilakukan latihan secara terus menerus, baik oleh penyelam maupun seluruh prajurit yang terlibat.

"Sebenarnya, tadi malam sekitar pukul 00.00 WIB semuanya sudah siap, namun karena cuaca yang tidak bisa diprediksi dan dilawan hingga memutuskan tali yang sudah disiapkan. Namun, Komandan Pangkalan TNI AL Tanjungbalai Karimun bersama seluruh prajurit Lanal kembali menyiapkan hingga selesai, Senin sekitar 07.00 WIB," kata Pangarmabar.

Dijelaskan, robeknya bendera raksasa itu murni karena faktor cuaca. Saat itu angin berhembus sangat kencang. Bahan bendera tersebut memang tidak dirancang untuk ukuran angin sekuat itu. .

"Bahannya sudah dipilih yang paling ringan, dan cocok untuk situasi seperti ini. Namun, sekali lagi ini semua karena faktor alam yang memang berada di luar kemampuan kita. Namanya kehendak alam kita tidak bisa melawan. Secara kesuruhan, pengibaran bendera ini sangat baik," terangnya.

Sementara, Awan Rahardjo Manajer Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) usai pengibaran bendera raksasa itu kepada Haluan Kepri mengatakan, pengibaran bendera merah putih yang dikibarkan dari dasar laut Karimun memang paling besar yang pernah ada di Indonesia. Maka dari itulah, pengibaran bendera raksasa itu memecahkan rekor MURI.

"Pada hari ini (kemarin, red), MURI menyaksikan kegiatan superlatif yang terjadi di persada nusantara. Ini merupakan pengibaran bendera merah putih terbesar yang dikibarkan dari dasar laut dengan menggunakan balon udara. Ini merupakan memecahkan rekor yang pernah MURI catatkan pada 2011 di Pulau Sebatik dengan luas 1.000 meter persegi. Sementara rekor kali ini adalah 1.500 meter persegi," ungkap Awan.

Kata Awan, meski bendera yang berkibar tidak sempurna karena sobek, namun tidak mengurangi anugerah rekor MURI dalam kegiatan itu. Menurutnya, esensi MURI sejatinya adalah semangat kebanggaan masyarakat terhadap bangsa. Kalau memang bendera robek, itu karena faktor alam semata.

"Kita tidak mungkin melawan situasi atau kondisi yang memang di luar kendali manusia. Karena segala persiapan itu sudah terencana dengan matang. Kami tetap memberikan anugerah, karena kami telah mengukur kalau bendera itu memang 1.500 meter persegi dan itu sudah diverifikasi dan hasilnya juga sudah dikibarkan dari dasar laut," jelasnya. (ham)

Share