Menyusur Jejak Bersejarah di Batam
Pernah singgah ke Pulau Buluh? Kalau belum, coba sekali-sekali melakukan heritage walks di kota tua yang bertengger di sisi Barat Pulau Batam, atau berjarak kurang dari satu mil dari Pelabuhan Rakyat Sagulung ini.
Ada banyak heritage spots yang bisa Anda sambangi, satu di antaranya adalah perigi (sumur) tua yang berumur lebih dari seratus tahun.
Perigi ini memiliki kedalaman sekitar tujuh meter dan berdiamater 1,5 meter. Bagian bawahnya ditumbuhi lumut hijau nan lebat dan rerumputan dari jenis ganggang. Dinding-dinding yang melingkarinya, terbuat dari susunan batu bata berlabel “Batam” produksi pabrik batu bata pertama di Pulau Batam bernama “Batam Brick Works” yang dibangun dan dikelola oleh Raja Ali Kelana sejak 26 Juli 1896.
Adalah Raja Ja’far beserta kerabatnya yang pernah singgah di Pulau Buluh menghadiahkan perigi ini kepada warga setempat sebelum bertolak ke negeri seberang, Malaka. Dari kisah tetua setempat, Abdul Hamid bin Muhammad Yusuf (80), perigi ini telah turun temurun dijadikan sumber air tawar bagi warga sekitar.
Seluruh bagian perigi terbuat dari batu bata dengan perekat batu kapur gamping yang berfungsi seperti semen. Pada dindingnya yang bertebal enam sentimeter, terdapat serpihan cincin porselin yang masih mengkilap jika digosok. Kesan angker segera terlihat ketika melongok ke bagian dalam perigi. (Edi Sutrisno)