Menyusur Jejak Bersejarah di Batam
Dinding-dinding berlumut yang lembab dengan beberapa bagian batu bata yang terlepas dan tidak utuh ini seakan menjelaskan bahwa perigi ini telah digunakan oleh tujuh generasi.
Tercetak jelas tahun pembuatan “1911” pada dinding sumur bagian luar. Posisinya, berada persis di halaman depan SMU 11 Pulau Buluh, yang dulunya adalah bekas sekolah Tionghoa bernama Kong Lip Muk.
Pada masa pendudukan Jepang, perigi ini juga digunakan oleh para tentara Jepang untuk aktifitas sehari-hari seperti memasak, mencuci hingga mandi. Di perigi itu pula serdadu-sedadu Jepang kerap melakukan ‘ritual,’ mandi bersama-sama telanjang bulat. Karena tidak memiliki pagar penutup, tentu saja aktifitas itu terlihat jelas dari luar, apalagi letaknya yang persis di pinggir jalan.
“Kami yang masih anak-anak waktu itu sering mengintip mereka mandi dari kejauhan. Tapi kalau ketahuan, kami langsung dikejar dan diajak mandi telanjang bersama tentara-tentara Jepang itu,” kenang Akui Ali, seorang Tionghoa kelahiran Pulau Buluh, seperti termuat di buku “Tionghoa Batam: Dulu dan Kini” terbitan Batam Link Publisher 2005.
Nah, itulah sekelumit catatan tentang perigi tua dan sejarah yang melingkupinya. Anda sendiri kalau penasaran dan ingin melihat dari dekat perigi itu, silakan saja. Hitung-hitung untuk sekedar jalan-jalan sajalah sembari sedikit belajar mengenal situs sejarah di negeri tempat kita bermastautin, berkarya, dan beranak pinak ini. (Edi Sutrisno)
- Perigi Tua Pulau Buluh (1)
- Toko Bahagia Pulau Buluh
- Kantor District Van Batam di Pulau Buluh
- Sekolah Tionghoa Kong Lip Muk