Sulit mencari informasi untuk menguak nama sebenarnya kelenteng kecil yang oleh Pertamina dinomori D042366 ini. Pun demikian dengan tahun pembuatannya.
Sebab, tidak ada plang, tulisan atau tanda-tanda di tubuh bangunannya.
Tapi kelenteng mini yang cuma berukuran 5mx5m ini sudah bisa jadi bukti bahwa Pulau Sambu sejak dulu telah dihuni oleh masyarakat yang heterogen.
Sumber lisan menyebut, tempo dulu, kelenteng ini digunakan warga Tionghoa untuk aktifitas ritual sehari-hari. Mereka adalah para warga Tionghoa yang kebanyakan menetap di sekitar kawasan Pasar Sambu. Sejak lama, Pasar Sambu memang telah dikenal sebagai kawasan yang banyak dihuni komunitas Tionghoa.
Kondisi kelenteng ini kini sudah tidak terawat. Atapnya tak berbekas. Yang tertinggal hanyalah bangunan utamanya saja. Dinding-dindingnya memanglah masih berdiri tegak namun terlihat sangat kusam. Cat yang menempelinya juga sudah banyak yang terkelupas di sana-sini. Lantai serta halaman luarnya nyaris tak berupa lantaran sudah dijejali semak belukar. (Edi Sutrisno)
- SD 1 Pulau Sambu
- Rumah Keluarga Alok
- Rumah Petinggi (RES) Pertamina Sambu (4)
- Rumah Petinggi (RES) Pertamina Sambu
- Rumah Petinggi (RES) Pertamina Sambu
- Tangga Seribu
- Wisma I Pulau Sambu
- Kantor Pos Pulau Sambu
- Perumahan Pandu Syahbandar
- Pasar Pulau Sambu
- Bukit Bendera
- Makam Keramat Puding
- Perigi Tua Pulau Buluh (2)
- Perigi Tua Pulau Buluh (1)
- Toko Bahagia Pulau Buluh
- Kantor District Van Batam di Pulau Buluh
- Sekolah Tionghoa Kong Lip Muk