Saturday, Mar 10th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Jejak Rumah Petinggi (RES) Pertamina Sambu

Rumah Petinggi (RES) Pertamina Sambu

Deretan rumah pangung berukuran besar ini adalah komplek rumah tinggal para petinggi Pertamina Sambu. Dilihat sepintas tak ubahnya seperti villa. Bangunannya kokoh, beraksitektur megah dan berpekarangan luas.

Posisinya, berdiri persis di sepanjang bibir pantai, menghadap langsung ke Selat Malaka. Dari sini pula, siapa pun dapat dengan gamblang menatap gedung-gedung pencakar langit milik negeri tetangga Singapura.

Seluruh gedung di kompleks ini terdiri atas delapan unit yang masing-masing, oleh pemiliknya Pertamina Sambu, dinomori mulai dari RES 21 hingga 29. Belum dapat diperoleh angka pasti kapan dimulai awal pembangunannya. Namun dari penuturan sejumlah warga dan pegawai Pertamina, gedung-gedung ini sudah berdiri sejak masa kolonial Belanda. Ia merupakan rangkaian dari proses pendirian Terminal BBM di Pulau Sambu oleh sebuah perusahaan Belanda yang secara resmi memulai operasi sejak 16 Agustus 1897.

Dulu, komplek ini memiliki sembilan unit rumah tinggal. Satu unitnya, yakni RES 25 kini tidak berbekas lantaran terbakar pada tahun 1978. Pasca terbakar, di lahan itu dibangun sebuah Sekolah Dasar (SD), yakni SD 2. Awalnya, sekolah ini dikelola oleh pihak swasta namun kemudian diambilalih oleh Pertamina melalui Yayasan Kesejahteraan Pegawai Pertamina (YKPP) atau biasa disebut Yaktapena.

Ijal, pegawai Pertamina Sambu yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah ini bertutur, SD 2 di masa awal hanya memiliki satu lokal yang difungsikan sebagai ruang guru serta dua ruang kelas. “Dua ruang itu dipakai untuk mengajar anak-anak kelas lima dan enam. Baru setelahnya, dibangun lokal tambahan yang punya empat ruang kelas,” sebutnya sembari menyebut sejumlah nama, yakni para guru yang pernah mengajarnya seperti Siti Rohani, Suminta, Jemu Dihardjo dan lainnya. Para guru itu, lanjutnya, oleh Pertamina Sambu lalu diangkat menjadi pegawai Pertamina. (Edi Sutrisno)