Wednesday, May 02nd

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Jejak Perigi Buta

Perigi Buta

Penduduk setempat menamainya perigi buta. Wajar kalau mereka menyebutnya begitu karena bila melihat kondisinya kini, perigi-perigi itu sudah sangat tidak terawat. Sekelilingnya ditumbuhi semak belukar dan nyaris tidak bisa disebut lagi sebagai perigi. Tapi begitu, perigi-perigi itu menyimpan nilai sejarah karena dibuat oleh para eks tentara Jepang yang pernah mendiami Sembulang.

Sampai catatan ini dibuat, terdapat dua titik perigi yang oleh warga sekitar diyakini dibangun oleh tentara Jepang. Lokasinya berada tepat di sisi belakang pekarangan rumah tetua dusun, Haji Mustofa. Perigi ini sudah dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Kedalamannya tidak sampai satu meter dan sisi-sisinya dikelilingi oleh semak-semak serta pepohonan lebat. Sepintas hampir tidak bisa dikenali fisiknya kalau tidak benar-benar dihampiri dari dekat. “Begitulah kondisinya sekarang. Tapi dulu waktu saya kecil-kecil, perigi ini masih ada airnya. Malah di dalamnya dulu kami pernah melihat tengkorak manusia,” ungkap Haji Mustofa, yang mengaku lahir dan besar di Sembulang.

Perigi lainnya, berada kurang lebih seribu meter dari kebun Haji Mustofa. Kondisinya hampir sama. Hanya sedikit lebih terang, tidak terlalu disemaki tanaman liar. Permukaannya juga lebih dalam, berkisar 1,5 meter. Namun sama-sama tidak memiliki cincin pelindung berupa bata atau semen. Di sekitaran perigi, berdiri tegak rerimbunan pohon hutan yang cukup lebat.

Tak jauh dari perigi, menurut Haji Mustofa adalah salah lokasi barak tentara Jepang. Hanya memang, barak itu kini tak meninggalkan bekas samasekali. Tahun 1980-an, bangunannya masih berdiri dan dapat dilihat dengan jelas. Seluruh materialnya terbuat dari kayu sedangkan atapnya berbahan getah. Bahkan, di dalam barak serta lokasi sekitarnya, masih ditemukan bekas-bekas peralatan seperti, panci, piring, gelas, penggorengan serta kaleng-kaleng bekas wadah makanan. Namun, benda-benda itu kini sudah lenyap dan bangunan baraknya pun sudah tidak berbekas. (Edi Sutrisno)