Jejak lain yang masih bisa dilihat dari bekas markas tentara Jepang di Sembulang adalah jalan berupa tanah berukuran lebar 3,5 meter. Jalan itu hingga kini masih difungsikan warga. Sebagian jalurnya malah sudah dilapisi aspal, sebagian lagi dibangun paving block.
Warga sekitar bertutur, jalan peninggalan tentara Jepang itu melintasi beberapa dusun, mulai dari Dusun Camping, Pasir Merah, Kampung Hulu, Sungai Raya, Tanjung Banun hingga Dapur Enam (Kuala Buluh). Posisinya melingkar, membentang hingga ratusan hektar, melingkupi hampir seluruh wilayah Sembulang.
Panjangnya alur jalan yang dibuat eks tentara Jepang ini juga memperkuat bukti bahwa semasa menduduki Sembulang, Jepang memiliki barak lebih dari satu titik. Mereka juga melengkapi infrastruktur basis tentaranya dengan pelabuhan yang diberinama Takara Port, berlokasi di Sungai Lujin. Di lokasi ini, mereka sempat meninggalkan dua kapal besi yang hingga kini sebagian bangkainya masih bisa dilihat.
Selain di Takara Port, tentara Jepang juga meninggalkan satu lagi kapal besi di kawasan Pasir Merah. Posisinya berada di bibir pantai, di samping sebuah rumah manggung milik salah seorang warga Sembulang. Setyawan, putra tokoh tempatan Amin Bujur menuturkan, kapal besi itu dulu memiliki lebar kurang lebih 5 meter dengan panjang kira-kira 20 meter. Saat air laut surut, kapal itu terlihat jelas dan sering jadi langganan bermain anak-anak tempatan kala itu. Namun sejak memasuki tahun 1980-an, bangkainya sudah tidak terlihat lagi. “Tapi kalau mau mengeruk dasar pantai, saya yakin kita masih bisa menemukan sebagian puing besi bekas badan kapal.” (Edi Sutrisno)