
Dari cerita turun temurun, tempat itu dulunya diyakini sebagai tempat pertapaan Datuk Megat, suami Tengku Fatimah Dina Mahkota, penguasa wilayah Bunguran dan sekitarnya. Datuk Megat, melakukan ritual bertapa selama beberapa waktu hingga pada satu kurun tertentu, para pengawal kehilangan jejak lantaran sudah tidak menemukan lagi Datuk Megat di tempat itu. Pasca raibnya Datuk Megat ini, para pengawal lalu memberi tanda di lokasi itu dengan meletakkan bongkahan batu sebelum pulang kembali untuk melaporkannya kepada Tengku Fatimah Dina Mahkota.
Sejak itu pula kemudian, warga sekitar mengeramatkan tempat raibnya Datuk Megat itu dengan membangun tempat yang lebih layak sebagai pertanda bahwa dulu pernah ada seorang tokoh yang disegani di wilayahnya. Seiring dengan waktu, tempat itu makin sering dikunjungi oleh banyak orang hingga kini. Bahkan sebagian meyakini kalau berdoa di keramat ini, hajat atau nazar seseorang bisa lebih mudah terkabulkan. (Edi Sutrisno)
