
Awalnya mesjid ini bernama Mesjid Teluk Siantan yang dibangun oleh Datuk Kaye Muhd Usman bin Datuk Kaye Muhd Yasin pada tahun 1880 M. Lokasinya berada di Pantai Kukup. Tapi lantaran kerap digenangi air laut saat pasang, pada 1920, mesjid ini dipindahkan ke area darat, tempat di mana mesjid ini berada sekarang. Proses pemindahan itu dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat setempat bersama dengan pemerintah kolonial Belanda yang berkuasa pada waktu itu.
Berbagai catatan menyebut, pembangunan mesjid ini di bawah pengawasan langsung oleh pihak petinggi Belanda dan diarsiteki oleh seorang pria berkebangsaan India yang didatangkan dari Singapura. Prosesi pembangunannya memakan waktu tidak kurang dari lima tahun. Dan baru pada 1925, mesjid ini diresmikan penggunaannya untuk pertama kali oleh Amir Abdul Hamid dan penghulu Tarempa Muhd Yusuf.
Meskipun diarsiteki oleh orang non muslim, mesjid itu tetap menggunakan filosofi Islam sebagai dasar bentuk bangunannya. Seperti lima buah tiang utama di dalam mesjid yang melambangkan lima rukun Islam. Enam tiang luar di sisi kanan dan kiri, merujuk pada enam rukun iman. Jumlah tiang keseluruhan 17 buah, merepresentasikan jumlah rakaat dalam salat wajib lima waktu. (Edi Sutrisno)
- Hikayat Datuk Megat dan Keramat Binjai (2)
- Hikayat Datuk Megat dan Keramat Binjai (1)
- Hikayat Batu Rusia, Natuna (2)
- Hikayat Batu Rusia, Natuna (1)
- Rumah Melayu Limas Potong
- Tangga Seribu
- Benny Horas Panjaitan, Penyambung Lidah Warga Kepri (3)
- Benny Horas Panjaitan, Penyambung Lidah Warga Kepri (2)
- Benny Horas Panjaitan, Penyambung Lidah Warga Kepri (1)
- Soerya Respationo, Birokrat yang Dekat dengan Wong Cilik (3)