
Komunitas Tionghoa ini menyebar ke seluruh area di Pelita, Kampungutama, Baloi, Seipanas dan Nagoya sendiri membangun rumah di atas lahan yang telah disediakan Otorita Batam, Tapi tidak sedikit dari mereka yang membeli ruko milik Harun (Ati). Jauh sebelum warga Tionghoa pindah ke kawasan ini, Harun sudah dikenal sebagai kontraktor yang membangun ruko di atas lahan yang dialokasikan Otorita Batam kepadanya. Sementara Otorita Batam melalui Kabalak Mayjend (purn) Soedarsono, mendukung penuh pengembangan Nagoya menjadi sentra perdagangan baru pasca terbakarnya Jodoh.
Untuk mempercepat realisasi pengembangan Nagoya ini, Pak Dar, panggilan akrab kabalak waktu itu, menunjuk empat orang pengusaha properti, yaitu Tony A Sam Yong, Harun, Andi Ibrahim dan Bachtiar Ali, pegawai Bea Cukai. Harun diminta focks membangun di kawasan Nagoya, Sam Yong dan Andi Ibrahim di kawasan Pelita. Sedangkan Bachtiar Ali tidak jadi membangun karena dipindahkan ke Jakarta.
Proyek bangunan ruko yang pertama kali dibangun Harun adalah Komplek Bumi Indah. Dengan mulai dibangunnya komplek ruko tersebut, kegiatan pembangunan ruko permanen terus menjalar ke komplek lain sehingga satu demi satu bangunan ruko berdiri di kawasan Nagoya. (Edi Sutrisno)
- Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (8)
- Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (7)
- Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (6)
- Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (5)
- Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (4)
- Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (3)
- Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (2)
- Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (1)
- Pulau Kuku dan Manusia Perahu (2)
- Pulau Kuku dan Manusia Perahu (1)