
Menuju Batu kapal bisa melalui dua jalur. Pertama melalui jalur atas yang kondisinya lapang seperti padang. Kanan kiri jalur ini dipenuhi bebatuan yang indah dan unik. Sangat pas untuk tempat bersantai sambil bercengkerama ketika sore atau malam hari. Sementara jalur bawah, Anda harus melewati Gedung Perusda yang hanya berjarak 500 meter dari jalan besar.
Dari cerita mulut ke mulut, dulunya batu itu merupakan sebuah kapal sarat muatan yang sedang bersandar. Pemiliknya adalah seorang pemuda yang sombong. Ia tidak mau mengakui sang ibu yang telah sekian lama mencari-carinya. Ketika bertemu, si anak malah menghardik dan mengusir dengan menendangnya keluar kapal. Ibunya yang sangat rindu dan sengsara itu lalu mengutuk agar si anak agar ditimpa bala. Kutukan sang ibu itu menjadi kenyataan. Seketika itu juga kapal yang ditumpanginya dilanda badai topan dan angin ribut. Akibatnya kapal itu pecah menjadi dua bagian dan berubah wujud menjadi batu beserta seluruh isinya. Melihat itu, sang ibu berlari sambil menangis penuh penyesalan karena kutukannya menjadi kenyataan. (Edi Sutrisno)
- Benteng Bukit Cening (3)
- Benteng Bukit Cening (2)
- Benteng Bukit Cening (1)
- Soedjatmiko, Tangan Dingin di Periode Perintisan
- Legenda Batu Kapal (2)
- Kepala Naga Bernama Nagoya
- Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (8)
- Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (7)
- Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (6)
- Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (5)
- Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (4)
- Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (3)
- Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (2)
- Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (1)
- Pulau Kuku dan Manusia Perahu (2)