Sabtu11172012

Last update12:00:00 AM

Back Jejak Soedjatmiko, Tangan Dingin di Periode Perintisan

Soedjatmiko, Tangan Dingin di Periode Perintisan

Share

Tahun 1958, Soedjatmiko yang kala itu berpangkat mayor diberi mandat lebih berat yakni menjadi Komandan Pangkalan Udara Kalijati. Tak lama sesudahnya, diangkat menjadi Komandan Pangkalan Udara Adi Sucipto. Memasuki tahun 1961, ia dikirim oleh AURI menempuh pendidikan Sekolah Komando (SESKO) di Andover, Inggris hingga tahun 1962. Lepas itu, pria kelahiran Tuban ini dipercaya menjadi Panglima Komando Daerah Udara I Sumatera dan akhirnya saat berpangkat marsekal muda, ditunjuk menjadi Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional.

Usai menjabat sebagai Kabalak Otorita Batam, tahun 1978, Soedjatmiko oleh Presiden Soeharto ditunjuk menjadi duta besar RI untuk Singapura. Tugas ini dijalankannya hingga tahun 1984. Di rentang waktu mengabdi untuk Negara ini, tepatnya pada tahun 1980, ia memperoleh kenaikan pangkat dari marsekal muda menjadi marsekal madya. Di akhir karir militer itu, oleh negara masih dipercaya menduduki jabatan sebagai Direktur Utama PT Timah. Ia mengabdi di perusahaan BUMN itu hingga tahun 1989. Setelah itu ia pun pensiun. Namun di tengah waktu luangnya, Soedjatmiko masih mengisinya dengan aktif di berbagai kegiatan sosial seperti menjadi Dewan Pembina Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Sewaktu masih hidup dan meski tugasnya telah purna sejak puluhan tahun lalu, Soedjatmiko sesekali masih mengnjungi Batam. Hampir setiap Otorita Batam berulang tahun, ia berusaha menyempatkan hadir, sekaligus menyalurkan hoby lamanya bermain golf di sejumlah golf course di pulau ini. Mengenai Batam, ia pun masih menaruh perhatian intens. Batam menurutnya harus mempertahankan ritme daya juangnya di masa-masa mendatang agar mampu mengemban tugas menjadi salah satu lokomotif pembangunan nasional. (Edi Sutrisno)