
Posisinya juga aneh, tidak rebah seperti kebanyakan meriam, tetapi berdiri tegak dengan moncong lurus menghadap ke langit. Karena posisinya yang demikian, meriam ini pun santer disebut dengan meriam tegak.
Keanehan meriam ini tentu saja mengundang tanda tanya setiap orang yang mengunjunginya. Herannya, sampai saat ini, belum ada satu pun catatan valid yang mampu mengungkapkan secara pasti mengapa meriam itu bisa berdiri tegak seperti itu. Yang ada hanyalah cerita dari mulut ke mulut para orang tua di Lingga.
Dari penuturan mereka, awal mula meriam ini bisa tercacak ke tanah, terjadi pada masa Kesultanan Lingga. Konon, di masa itu terdapat seorang pendekar perempuan yang memiliki kesaktian tinggi. Satu ketika ia beradu perang dengan seorang pendekar lelaki. Dalam adu tanding kesaktian itu, tidak disebutkan siapa menang dan siapa kalah, tetapi mengakibatkan sebuah meriam tertancap di dalam tanah.
Versi lain menyebut, ada seorang putri dari Kerajaan Lingga berkelahi dengan sang pangeran. Karena sesuatu hal, putri yang tidak disebutkan persis namanya itu, marah. Saking kalapnya ia pun lalu menancapkan sebuah meriam ke dalam tanah. (Edi Sutrisno)
- Mesjid Jamik Sultan Lingga (2)
- Mesjid Jamik Sultan Lingga (1)
- Kompleks Makam di Bukit Cengkeh Daik (2)
- Kompleks Makam di Bukit Cengkeh Daik (1)
- Meriam Tegak Dabo (2)
- Museum Linggam Cahaya (4)
- Museum Linggam Cahaya (3)
- Museum Linggam Cahaya (2)
- Museum Linggam Cahaya (1)
- Benteng Bukit Cening (3)
- Benteng Bukit Cening (2)
- Benteng Bukit Cening (1)
- Soedjatmiko, Tangan Dingin di Periode Perintisan
- Legenda Batu Kapal (2)
- Legenda Batu Kapal (1)