
Berbagai referensi menyebut, Sultan Abdul Rahman Syah berkuasa pada tahun 1812-1832. Ia adalah putra Sultan Mahmudsyah III, merupakan Sultan Johor-Pahang-Riau Lingga XVII (1812-1824) dan Sultan Lingga Riau yang pertama (1824-1832). Mangkat di Daik Lingga pada malam Senin 12 Rabiul Awal 1240 H (1832 M) dan bergelar “Marhum Bukit Cengkeh.”
Selain dikenal sangat alim dan giat menyebarkan agama Islam, pada masanya, Sultan Abdul Rahman Syah juga membangun sejulah benteng seperti Benteng Kuala Daik, Benteng di Bukit Cening dan Benteng di Pulau Mepar. Ia juga berandil besar dalam mengembangkan usaha penambangan timah di Singkep.
Adapun Sultan Muhammad Syah II adalah Sultan Lingga Riau yang ke-dua, memerintah dari tahun 1832 hingga 1841. Ia merupakan putra dari Sultan Abdul Rahman Syah dengan permaisurinya Raja Fatimah. Sultan Muhammad Syah II dikenal sangat mencintai bidang seni, seperti seni ukir, tenun dan kerajinan tembaga. Bahkan ia sempat mendatangkan ahli emas dan perak dari Pulau Jawa untuk meningkatkan pembangunan di bidang seni dan kerajinan itu. Karya lainnya di bidang pembangunan berwujud Bilik 44 serta Istana Kedaton. (Edi Sutrisno)
- Mesjid Jamik Sultan Lingga (2)
- Mesjid Jamik Sultan Lingga (1)
- Kompleks Makam di Bukit Cengkeh Daik (2)
- Meriam Tegak Dabo (2)
- Meriam Tegak Dabo (1)
- Museum Linggam Cahaya (4)
- Museum Linggam Cahaya (3)
- Museum Linggam Cahaya (2)
- Museum Linggam Cahaya (1)
- Benteng Bukit Cening (3)
- Benteng Bukit Cening (2)
- Benteng Bukit Cening (1)
- Soedjatmiko, Tangan Dingin di Periode Perintisan