
Awalnya, mesjid ini, atas kehendak sultan, pernah dipindahkan ke Kampung Pahang. Tapi di lokasi yang baru itu hanya dipakai untuk satu kali shalat Jumat saja. Karena kondisi tanah tempat berdirinya mesjid tidak bagus. Setelahnya dipindahkan kembali ke lokasi awal, sebagaimana yang terlihat sekarang ini. Reruntuhan bekas mesjid itu kini masih bisa dilihat di kawasan Jalan Robat.
Berbagai referensi menyebut, mesjid ini di masa awal, bangunannya hanya mampu menampung 40 jemaah. Bangunannya pun terbuat dari kayu dan beratapkan daun sagu. Tapi kemudian pada masa Pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (1857-18830, sudah berlantai keramik, yang diambil dari keramik istana. Perombakan terus dilakukan pada masa Sultan Abdurahman Muazam Syah (1883-1911). Mesjid diperluas dan diperbesar sehingga kapasitasnya mampu menampung hingga 400 jemaah. (Edi Sutrisno)
- Pabrik Pengeringan Sagu “Seranggung Jaya” (1)
- Mesjid Jamik Sultan Lingga (3)
- Mesjid Jamik Sultan Lingga (2)
- Kompleks Makam di Bukit Cengkeh Daik (2)
- Kompleks Makam di Bukit Cengkeh Daik (1)
- Meriam Tegak Dabo (2)
- Meriam Tegak Dabo (1)
- Museum Linggam Cahaya (4)
- Museum Linggam Cahaya (3)
- Museum Linggam Cahaya (2)
- Museum Linggam Cahaya (1)
- Benteng Bukit Cening (3)
- Benteng Bukit Cening (2)