
Sebagian besar penghuni perkampungan ini adalah mereka yang berdialek hokkian. Mereka umumnya adalah para pekebun karet. Masing-masing warga, setidaknya memiliki areal kebun karet berluas 20 hingga 40 hektar. Sampai dengan tahun 1930-an, jumlah warga Tionghoa yang menetap di Seipanas berkisar 40 kepala keluarga (KK).
Untuk kepentingan rohani, warga Tionghoa di perkampungan ini membangun sebuah kelenteng yang mereka namai Chin Bu Bio. Tidak diketahui pasti kapan kelentang ini dibangun namun yang jelas, keleteng tersebut pernah direnovasi oleh warga pada 1891 lantaran tiang penyangganya yang terbuat dari kayu, roboh. Puluhan tahun sesudahnya, kelenteng yang hanya berukuran 3Mx3M itu tetap dipertahankan seperti apa adanya. Hingga akhirnya pada tahun 1959, oleh warga direnovasi dan sekaligus diperbesar.
Menurut penuturan Lim Bouson (Acui), warga Tionghoa yang telah lama bermastautin di Seipanas, kelenteng itu pada renovasi kedua, mengalami perluasan signifikan. Luas bangunan kelenteng menjadi 15Mx14M. Dengan perluasan tersebut, kelenteng ini bisa menampung warga Tionghoa dalam jumlah yang lebih banyak. Belakangan, kelenteng Chin Bu Bio bermetamorfosis menjadi Vihara Cipta Dharma.
Dari sisi fisik, sejak berganti nama, kelenteng ini memiliki bangunan yang kokoh. Luasnya pun bertambah. Hanya memang, tapak bangunan lamanya, sama sekali tidak meninggalkan bekas. (Edi Sutrisno)
- Pemandian Lubuk Papan (3)
- Pemandian Lubuk Papan (2)
- Pemandian Lubuk Papan (1)
- Pulau Buluh dan Dewi Perindu
- Pabrik Pengeringan Sagu “Seranggung Jaya” (2)
- Pabrik Pengeringan Sagu “Seranggung Jaya” (1)
- Mesjid Jamik Sultan Lingga (3)
- Mesjid Jamik Sultan Lingga (2)
- Mesjid Jamik Sultan Lingga (1)
- Kompleks Makam di Bukit Cengkeh Daik (2)
- Kompleks Makam di Bukit Cengkeh Daik (1)
- Meriam Tegak Dabo (2)
- Meriam Tegak Dabo (1)
- Museum Linggam Cahaya (4)