Minggu04142013

Last update12:00:00 AM

Back Jejak Menyusur Tapak Sejarah di Pulau Mepar (1)

Menyusur Tapak Sejarah di Pulau Mepar (1)

Tidak afdol rasanya mengunjungi Lingga tanpa singgah di Pulau Mepar. Terletak persis di hadapan Pelabuhan Tanjung Buton, pulau ini tak hanya cantik tapi juga kaya sejarah. Penduduknya yang ramah, kuat menjaga tradisi adalah bonus tambahan yang bakal Anda dapati kalau menyinggahinya. Jangan lupa, cicipi juga kulinernya khas serta bawa pula aneka ragam kerajinan tangan asli Pulau Mepar sebagai buah tangan.

Secara administratif, Pulau Mepar merupakan bagian dari Kecamatan Lingga, berluas sekitar 5000M2 dengan penduduk berkisar 400 jiwa. Sebagian besar warganya berprofesi sebagai nelayan, sebagian lagi bekerja di swasta atau menjadi pengrajin sambilan. Umumnya, mereka bersuku Melayu tetapi ada juga beberapa kepala keluarga (KK) yang berasal dari beragam suku, termasuk Tionghoa.

Kalau memasuki Pulau Mepar ini, Anda akan disambut rumah-rumah kayu, khas nelayan yang berdiri di bibir pantai, menjorok agak ke arah laut. Sebuah dermaga beton berdiri gagah, berhias kapal-kapal kayu berukuran lumayan besar yang tengah sandar di tepi depannya. Selain memiliki pelabuhan antarpulau, Mepar juga dikenal memiliki pelabuhan cukup besar yang kerap disinggahi kapal-kapal kargo yang melayani rute ke berbagai daerah di Kepulauan Riau, bahkan sebagian hingga ke kota-kota di Sumatera.

Suasana khas perkampungan nelayan makin kental terasa begitu Anda melewati gerbang masuk ke pulau. Jalan bercor semen, berlebar dua meteran, melingkari rumah-rumah penduduk yang berada di sisi darat. Di sela-selanya, tumbuh rindang pepohonan mangga, sawo dan nangka. Satu dua titik, terlihat tanaman pandan. Tampak asri dan meneduhkan. (Edi Sutrisno)

Share