
Tulisan di prasasti itu terdiri dari enam baris terpisah. Oleh ahli sejarah Dr. J Brandes berhasil ditranskripsi dan diterjemahkan. Bunyinya: Mahayanika. Galayantritasri. Gautamasripada. Mahayanika. Golapanditasri. Gautamasripada. Ditulis dalam huruf sansekerta, prasasti itu ditulis oleh seorang rohaniawan Budha yang intinya bertemakan pemujaan kepada sang Budha Mahayana.
Sekarang, tempat berdirinya prasasti itu dijadikan sebagai lokasi beribadah bagi para penganut agama Budha hingga menarik para wisatawan dari etnis India dan Tionghoa untuk datang melakukan ritual do’a minta kesehatan, keselamatan dan kemurahan rejeki. Oleh pemerintah setempat, prasasti bersejarah yang telah berusia sepuluh abad itu telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang keberadaannya dijaga dan dilindungi.
Untuk datang ke sana Anda harus lebih dulu meminta ijin ke security PT Karimun Granit di pos penjagaan, karena lokasinya memang berada di dalam kawasan perusahaan penambangan granit tersebut. Untuk diketahui, PT Karimun Granit telah melakukan penambangan granit di bawah kaki Gunung Jantan sejak awal tahun 1970-an. (Edi Sutrisno)



