
Terlepas dari talian sejarah itu, perkebunan sagu di Lingga hingga kini masih lestari dan bisa ditemui di berbagai pelosok Lingga. Bedanya, kalau dulu di kirim ke negeri jiran, hasil olahan sagu Lingga banyak diserap di pasar lokal yakni Palembang, Jambi atau Medan. Luas total kebun sagu di kawasan Lingga serta Lingga Utara sampai saat ini mencapai 3.445,5 hektar.
Tapi uniknya, meski menempati urutan pertama hasil perkebunan, selain karet dan lada, sagu di Lingga masih diproses secara konvensional, baik dari proses pemotongan sampai pada proses pengolahannya. Nah, pada kampong trip inilah, Anda diajak menyusuri perkampungan-perkampungan sagu itu untuk melihat dari dekat bagaimana sagu ditanam, dipanen lalu diolah menjadi bahan siap pakai.
Dari kawasan kota, jalur awal perjalanan, susuri saja jalan yang menuju ke arah Desa Melukap. Sampai di Desa Panggak Laut, hentikan kendaraan Anda tepat di sebuah jembatan yang membelah sungai Panggak Laut. Di sisi bawah, kanan dan kiri jembatan itulah, Anda bisa melihat dari dekat pabrik pengolahan sagu yang bangunannya terbuat dari kayu, berdiri persis di bantaran sungai. Mesin pengerak dan pemompa airnya pun terlihat sederhana. (Edi Sutrisno)



