Kamis06062013

Last update12:00:00 AM

Back Jejak Menyusur Perkebunan Sagu di Daik (5)

Menyusur Perkebunan Sagu di Daik (5)

Nah bagaimana, sudah puas melihat pabrik, tanaman sagu dan kawanan monyet? Kalau iya, dan perut sudah terasa lapar, Anda bisa balik menuju ke kota. Tapi, kalau masih ada waktu, singgahi sebentar Desa Nereke, di persimpangan jalan menuju pulang. Desa ini merupakan perkampungan nelayan yang penduduknya mengandalkan hidup dari melaut, tetapi tidak sedikit yang berprofesi sebagai pekebun sagu.

Sebagian lagi, terutama kaum perempuannya adalah pengrajin daun sagu. Untuk menambah penghasilan keluarga, mereka ini tunak di aktifitas menganyam atap rumah dari daun sagu. Dalam satu hari, satu pengrajin mampu menganyam 100 keping, bernilai kira-kira Rp60.000. Biasanya, atap-atap daun sagu itu dijual ke pembeli yang datang langsung menjemput dari rumah mereka.

Di desa ini, manfaatkan juga waktu untuk berkeliling, melihat dari dekat rumah-rumah mereka yang kebanyakan terbuat dari kayu. Suasana desa yang tenang, jauh dari hingar bingar dan bising kendaraan, juga jadi bonus tambahan yang bakal Anda reguk. Satu lagi, kalau cuacana tengah terang, arahkan kamera Anda ke Gunung Daik. Mengambil foto dari desa ini, di mana pun titiknya, dijamin yang bakal menghasilkan gambar yang super.

Desa Panggak Laut, Kampung Musai, Kampung Pelanduk dan Desa Nereke, berada dalam satu jalan atau jalur perjalanan. Menuju ke sana biasanya orang melewati Kampung Cina terlebih dulu. Dari situ, baru teruskan perjalanan hingga melintasi Desa Melukap. Kalau sudah sampai di desa ini, berarti Anda sebentar lagi tiba di Desa Panggak Laut. Sebab jarak Melukap ke Panggak Laut sangat dekat. (Edi Sutrisno)

Share