Sekolah Kong Lip Muk yang khusus diperuntukkan bagi warga Tionghoa di Pulau Buluh ini dibangun pada 1937. Bangunannya bertingkat dua, memiliki enam kelas yang setiap ruang diisi 15 hingga 20 siswa. Tenaga pengajarnya berjumlah empat orang yang didatangkan dari Singapura. Sekolah ini bahkan dilengkapi dengan ruang bacaan yang oleh pengelolanya sekaligus dijadikan sebagai tempat penjualan alat-alat tulis. Aktifitas belajar mengajar di Kong Lip Muk berlangsung lancar. Namun memasuki 1942, seiring dengan masuknya tentara Jepang, sekolah ini ditutup. Penutupan sekolah ini dimengerti mengingat pada masa itu Jepang sebagai penjajah baru melarang penggunaan Bahasa Tionghoa, termasuk sekolah khusus Tionghoa. Akibat kebijakan ini, anak-anak Tionghoa di Pulau Buluh terpaksa berhenti sekolah, namun ada juga di antaranya yang kemudian masuk SR yang letaknya hanya beberapa meter dari Sekolah Kong Lip Muk.
Saat tentara Jepang menyerah kepada pasukan Sekutu tahun 1945, tentara Jepang juga angkat kaki dari Pulau Buluh. Momen ini langsung dimanfaatkan warga Tionghoa untuk mendirikan kembali Sekolah Kong Lip Muk. Anak-anak Tionghoa yang kebanyakan tidak bisa bersekolah sewaktu pendudukan Jepang, kembali bisa mengenyam pendidikan. Kondisi ini berlangsung hingga akhir 1960. Memasuki periode konfrontasi Indonesia-Malaysia, sekolah Tionghoa ini ditutup selamanya. Bekas bangunannya lalu diubahfungsikan menjadi balai desa hingga beberapa dekade.
Kini di atas tapak sekolah ini telah berdiri gedung SMU 11 Pulau Buluh. Yang tertinggal dari bangunan bersejarah ini adalah tangga utama sebanyak enam tingkat. Hanya untuk menyesuaikan dengan struktur gedung yang baru, pengelola sekolah menambah beberapa meter diameter tangga, hingga keseluruhannya kini mencapai kurang lebih 30 meter. Sementara bangunan utamanya sama sekali tak berjejak. (Edi Sutrisno)
