
Dari cerita yang tertutur dari mulut ke mulut, konon nama Pulau Buluh berasal dari kata “buluh” (baca:bambu). Tempo dulu, hampir seluruh permukaan tanah di pulau ini ditumbuhi hutan bambu. Kalaupun ada tanaman lain, jumlahnya sangat sedikit dan kalah rindang dengan pepohonan bambu yang terlihat tumbuh subur di hampir setiap sudut pulau. Selain dikenal dengan hutan bambunya, pada era kejayaan Kerajaan Riau Lingga, Pulau Buluh juga jadi tempat favorit berburu pelanduk (sejenis kancil) bagi para pembesar kerajaan, terutama putra raja.
Singkat cerita, putra raja sangat menyenangi berburu pelanduk di Pulau Buluh ketimbang di pulau-pulau lainnya. Itu lantaran hasil yang diperoleh selalu lebih banyak dan uniknya, pelanduk yang didapat bukan lagi karena hunusan benda tajam, tetapi lebih banyak yang ditangkap dengan tangan kosong.
Usut punya usut, mudahnya putra raja menangkap pelanduk ini ternyata dibantu oleh seorang gadis cantik yang berpakaian serba kuning. Putra Raja baru mengetahuinya setelah pada satu ketika ia bermimpi bertemu dengan gadis cantik itu. Dalam mimpinya, ia diminta gadis yang belakangan diketahui bernama Dewi Perindu untuk menebang sebatang buluh kuning sepanjang dua hasta dan menyimpannya. Bambu itu berkhasiat menjadikan setiap perkataannya yang baik, pasti cepat diikuti rakyat.
Mempercayai mimpi itu, Putra Raja keesokan harinya bergegas ke Pulau Buluh dan menebang sebatang buluh seperti yang diminta Dewi Perindu. Sejenak kemudian, rombongan pelanduk menghampirinya danbersimpuh laiknya rakyat jelata yang datang menghatur sembah. Spontan Putra Raja kaget dan bertanya siapa di antara pelanduk itu yang jadi pemimpinnya. “Sang Putri,” jawab para pelanduk-pelanduk yang ternyata dapat berbicara laiknya manusia.
“Hambalah yang menggiring pelanduk-pelanduk itu di hadapan tuanku,” terdengar suara merdu seorang gadis seperti yang pernah didengar di dalam mimpinya. Tapi anehnya, pemilik suara itu sama sekali tidak menampakkan wujudnya. “Setakat ini saya akan tetap bersembunyi dari penglihatan tuanku,” jawab suara itu yang ternyata adalah Dewi Perindu.
Singkat cerita, Putra Raja ngotot untuk bisa melihat wujud Dewi Perindu dan akhirnya luluh pulalah hati Dewi Perindu. Akhirnya, kedua insan berbeda asal itu menikmati pertemuan syahdu itu. Sayang, tak lama kemudian, semua pohon buluh kuning itu berubah menjadi pohon-pohon lain. Pelanduk pun menghilang bersama dengan Dewi Perindu. Putra Raja pun pulang dengan duka mendalam.
Di tengah pelayaran menuju ke Pulau Penyengat, perahunya dihantam ribut. Buluh perindu yang disimpan Putra Raja terlempar ke laut. Bagi yang percaya legenda ini, buluh perindu milik putra raja itu hingga kini jadi perburuan orang. Diyakini, siapa yang bisa memegangnya dapat memiliki suara merdu laiknya suara Dewi Perindu, dewi khayangan yang telah melanggar sumpah itu. (Edi Sutrisno)
