Jumat09152017

Last update05:00:00 AM

Back Jejak

Jejak

Prasasti Pasir Panjang Karimun (3)

Satu lagi situs yang berada di sekitar prasasti adalah sebuah perigi berbentuk oval yang letaknya juga di dalam batu. Perigi berukuran panjang 2,5M X 1M dan dalam 1,3M itu tidak pernah kering walaupun pada musim kemarau panjang, karena ada sumber mata air yang terus menerus mengalir turun lewat celah-celah batu.

Prasasti Pasir Panjang Karimun (2)

Dulunya keberadaan batu prasasti itu persis di pinggir laut. Untuk bisa melihatnya, orang harus menggunakan perahu menyisir pantai. Tapi kemudian PT Karimun Granit menimbun kawasan pantai hingga hampir seratus meter. Jadi kalau Anda ke sana, begitu turun dari mobil atau sepeda motor, bisa langsung sampai di depan lokasi situs itu berada.

Prasasti Pasir Panjang Karimun (Bagian Pertama)

Prasasti berupa tulisan yang dipahat di atas batu granit raksasa yang terletak di kaki Gunung Jantan ini diyakini telah ada sejak abad ke-IX atau ke-X. Ditemukan pertama kali oleh seorang ahli pertanian berkebangsaan Belanda bernama K. F Holle. Penemuan itu kemudian pada 14 juli 1873 dilaporkan oleh K.F Holle ke Pemerintah Bataviaasch Genootehap van Koonstenen Wetenschapen di Batavia. Lalu dalam kurun waktu tidak terlalu lama, gambar prasasti itu telah sampai di British Museum yang akhirnya menarik para peneliti datang ke Karimun untuk melakukan kajian dan penelitian.

Mesjid Al Mubaraq (Mesjid Meral) (2)

Kini, Mesjid Al Mubaraq selain jadi sentra bagi peribadatan umat Muslim di Karimun, juga jadi objek kunjungan wisatawan dari Singapura dan Malaysia yang umumnya masih punya hubungan kekerabatan serumpun dengan Sang Amir Karimun dan Amir Pulau Buru. Bahkan pengurus mesjidnya sekarang masih keturunan langsung dengan Raja Usman Bin Raja Ishak. Adapun makam sang pendirinya sendiri, kini masih terawat baik dan berada di samping pelataran mesjid, bergelar “marhum mesjid.”

Mesjid Al Mubaraq (Mesjid Meral) (1)

Keberadaan Mesjid Al Mubaraq yang terletak di Kecamatan Meral Karimun ini tidak lepas dari pendirinya, yakni Raja Usman Bin Raja Ishak, Amir Karimun ketiga yang bergelar Engku Andak pada 1301 Hijriah. Bangunannya jauh lebih besar bila dibanding dengan Mesjid H Abdul Ghani (Mesjid Buru) yang berada di Pulau Buru.

Mesjid Haji Abdul Ghani (1)

Inilah mesjid tertua di Kabupaten Karimun. Dibangun oleh Raja Abdul Ghani bin Raja Idris bin Raja Haji Fisabilillah, seorang amir pertama yang ada di Pulau Buru. Belum ada catatan pasti tahun berapa didirikan, namun yang pasti mesjid ini dibangun pada pada pertengahan abad ke-19, yakni semasa Kerajaan Riau-Lingga diperintah oleh Sultan Abdul Rahman Muazzamsyah (1883-1911)

Makam si Badang (1)

Menyukai heritage walks atau menapaktilasi tempat-tempat bersejarah? Kunjungi Makam si Badang yang berada di Pulau Buru ini. Makam ini diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir seorang hulubalang kerajaan Riau Lingga bernama Badang yang pada masanya dikenal gagah berani dan memiliki kesaktian tinggi.

Menyusur Tapak Sejarah di Pulau Mepar (2)

Menyusur Tapak Sejarah di Pulau Mepar (2)

Tak jauh dari situ, kalau berjalan agak ke arah sisi belakang, Anda akan merasakan atmosfir yang berbeda dari sebelumnya. Dari titik inilah agaknya, petualangan menapaktilasi tapak-tapak sejarah yang terendap di pulau ini, dimulai. Persis di belakang salah satu rumah warga, yang posisinya berbatasan antara perumahan warga dengan kaki bukit, Anda akan dapati kompleks pemakaman Temenggung Jamaluddin dan Datuk Kaya Montel. Dua pembesar semasa pemerintahan Kerajaan Lingga itu dimakamkan di tempat ini bersama para keluarga dan keturunannya.