Jumat09152017

Last update05:00:00 AM

Back Jejak

Jejak

Mesjid Jamik Sultan Lingga (3)

Di dalam komplek mesjid ini juga, terdapat beberapa makam , satu di antaranya adalah pendiri mesjid atau dikenal dengan sebutan marhum mesjid. Dia adalah Sultan Mahmud Syah III, Sultan Lingga yang pertama yang berkuasa pada 1761 hingga 1812. Di sampingnya adalah makam istri dan para kerabatnya.

Mesjid Jamik Sultan Lingga (2)

Kalau melongok ke dalam mesjid, Anda akan terkesima dengan struktur bangunannya yang unik. Kubah mesjid ini dibangun tanpa tiang tengah menyangga, sehingga terkesan luas ketika berada di tengah-tengahnya. Penyangganya adalah balok-balok kayu pilihan yang kuat dan berukuran besar. Mimbarnya, seperti juga mimbar Mesjid Penyengat di Tanjungpinang, skrinnya dibuat oleh para pengukir dari kawasan Semarang (Jawa Tengah). Dalam ukiran mimbar bertinggi kira-kira empat meter itu, tertera catatan 12 Rabiul Awal, Senin 1212 Sanah Hijriah Nabi Muhammad SAW (1792 M).

Mesjid Jamik Sultan Lingga (1)

Inilah mesjid tertua di Lingga bahkan bisa jadi yang tertua di Kepulauan Riau. Berada persis di tengah-tengah Kota Daik, mesjid ini dibangun pada tahun 1800, oleh Sultan Mahmud Syah, Sultan Yang Dipertuan Besar Riau Lingga, Johor, Pahang. Hingga kini, masjid ini masih berdiri kokoh dan digunakan sebagai pusat peribadatan umat Islam di Kota Daik Lingga dan sekitarnya.

Kompleks Makam di Bukit Cengkeh Daik (2)

Mangkat di Daik Lingga pada tanggal 9 Januari 1841 dan diberi digelar “Marhum Kedaton/Keraton,” Sultan Muhammad Syah dimakamkan di Bukit Cengkeh dengan posisi makam tepat terletak di dalam sebuah bangunan tembok persegi delapan yang beratap dan bergubah.

Kompleks Makam di Bukit Cengkeh Daik (1)

Kompleks Pemakaman Bukit Cengkeh merupakan satu di antara kompleks pemakaman para pembesar Kerajaan Lingga yang berada di Kota Daik. Di kompleks pemakaman ini Anda bisa melihat sekaligus menziarahi tiga makam sultan yang pernah berkuasa di Lingga tempo dulu. Ketiganya adalah Makam Sultan Abdul Rahman Syah, Sultan Muhammad Syah II serta Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II.

Meriam Tegak Dabo (2)

Nah, terlepas mana yang benar dari kedua cerita itu, yang pasti, meriam yang separuh batangnya tertancap itu, hingga kini tidak bisa dicabut, meski menggunakan alat berat sekali pun. Karena itu, pemerintah setempat membiarkan saja meriam itu dalam posisi awal. Hanya, di sekelilingnya, dipagari besi bertinggi kira-kira satu meter. Sementara moncongnya, dibaluti kain warna kuning.

Meriam Tegak Dabo (1)

Selain berjuluk Bunda Tanah Melayu, ada juga sebagian orang yang menyebut Lingga adalah negeri seribu satu meriam. Meriam, sangat mudah ditemukan dan biasanya berada di sekitar tapak-tapak sejarah, bekas benteng pertahanan, gedung pemerintahan hingga di lapangan sepakbola. Di Kota Dabo juga demikian, malah ada satu meriam yang letaknya berada di pinggir pantai.

Museum Linggam Cahaya (4)

Museum ini sendiri dibuka sejak pagi dan tutup sekitar pukul 17.00 WIB . Tidak dipungut biaya sama sekali bagi pengunjung yang ingin mendatanginya. Hanya, bagi awam, selama di museum, tidak diperbolehkan sama sekali untuk memotret sebagian atau seluruh isi koleksinya. Untuk keterangan lebih detil tentang museum dan isinya, ketika sampai di sana, Anda bisa menghubungi langsung pengelolanya yakni bapak Sulaiman Atan.