Jumat09152017

Last update05:00:00 AM

Back Jejak

Jejak

Museum Linggam Cahaya (3)

Aneka pinggan dan mangkuk, juga jadi ikon isi museum ini. Yang terlihat di sana di antaranya adalah pinggan dan mangkuk, termasuk kendi buatan Cina mulai dari Dinasti Ming, Sung hingga Yuan. Sementara, tempayan, taka dan botol, beragam ukuran dan bentuk juga tertata rapi. Untuk tempayan, umumnya terbuat dari tanah, yang dimasa silam digunakan untuk menyimpan air, beras, lobak hingga telur asin.

Museum Linggam Cahaya (2)

Di bangunan utama itulah, Anda bisa melihat ribuan koleksi benda cagar budaya peninggalan Kerajaan Lingga. Benda-benda bernilai tinggi itu, seluruhnya telah dinilai oleh Tim Balai Kajian Sejarah dan Nilai-Nilai Tradisional. Adapun, berdasarkan katagorinya, ada sepuluh jenis benda cagar budaya yang tersimpan di sana. Beberapa di antaranya adalah benda dari bahan kuningan. Yang termasuk dalam katagori ini, umumnya merupakan hasil produksi pada masa Sultan Muhammadsyah (1832-1841), contohnya: paha (tempat meletakkan makanan atau lauk pauk), keto (tempat membuang ludah), tepak sirih, sanggan, sangku (tempat cuci tangan), embat-embat (tempat wewangian) dll.

Museum Linggam Cahaya (1)

Menapaktilasi Jejak-jejak Sejarah di Lingga

Kalau Anda penyuka museum atau menggemari sejarah daerah, mengunjungi Museum Linggam Cahaya adalah pilihan tepat. Dari museum inilah, Anda bakal beroleh informasi aktual tentang perjalanan panjang Kerajaan Lingga, melalui peninggalan benda-benda bersejarah yang masih tersimpan dan terjaga kelestariannya.

Benteng Bukit Cening (3)

Menapaktilasi Jejak-jejak Sejarah di Lingga

Menuju ke Benteng Bukit Cening, Anda bisa menggunakan mobil atau sepeda motor. Dari pusat kota, bisa ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit. Jarak sesungguhnya dari kawasan kota ke Bukit Cening hanyalah berkisar lima kilometer saja. Cukup dekat.

Benteng Bukit Cening (2)

Menapaktilasi Jejak-jejak Sejarah di Lingga

Sebagian meriam lainnya, ada yang bertuliskan VOC. Ada pula yang bertuliskan tahun 1783. Ukurannya juga beragam, tapi dipercaya merupakan buatan Belanda dan sebagian made in Portugese. Adapun soal penamaannya, ahli sejarah lokal menyebut bahwa di antara meriam-meriam itu ada yang disebut dengan panggilan Meriam Puyuh Putih.

Benteng Bukit Cening (1)

Menapaktilasi Jejak-jejak Sejarah di Lingga

Sebanyak 19 meriam tersusun rapi di atas bantalan semen berukuran kira-kira setengah meter. Sebagian menghadap ke arah Utara, sebagian lagi menghadap ke sisi Timur. Kendati telah berumur ratusan tahun, kondisinya masih baik dan utuh. Sebagian di antaranya bahkan, masih meninggalkan jejak berupa ukiran berwujud tulisan tahun pembuatan serta lambang pemilik di bagian pangkal batang meriamnya.

Soedjatmiko, Tangan Dingin di Periode Perintisan

Tahun 1958, Soedjatmiko yang kala itu berpangkat mayor diberi mandat lebih berat yakni menjadi Komandan Pangkalan Udara Kalijati. Tak lama sesudahnya, diangkat menjadi Komandan Pangkalan Udara Adi Sucipto. Memasuki tahun 1961, ia dikirim oleh AURI menempuh pendidikan Sekolah Komando (SESKO) di Andover, Inggris hingga tahun 1962. Lepas itu, pria kelahiran Tuban ini dipercaya menjadi Panglima Komando Daerah Udara I Sumatera dan akhirnya saat berpangkat marsekal muda, ditunjuk menjadi Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional.

Legenda Batu Kapal (2)

Kini, lima ratus meter dari arah utara Batu Kapal itu, terdapat batu raksasa dengan rongga yang lebar di bawahnya. Batu itulah yang kemudian disebut orang dengan batu menangis karena di sanalah tempat ibunya menangis. Hingga kini, warga sekitar masih sering mendengar suara tangisan dari arah batu itu, pada waktu-waktu tertentu. Sedangkan kemudi kapalnya yang hanyut berubah wujud menjadi sebuah pulau yang disebut Pulau Kemudi. Barang lainnya konon hanyut dan terdampar di Pulau Jantai.