
Jejak
Museum Linggam Cahaya (3)
- 21 November 2012
Museum Linggam Cahaya (2)
- 20 November 2012

Di bangunan utama itulah, Anda bisa melihat ribuan koleksi benda cagar budaya peninggalan Kerajaan Lingga. Benda-benda bernilai tinggi itu, seluruhnya telah dinilai oleh Tim Balai Kajian Sejarah dan Nilai-Nilai Tradisional. Adapun, berdasarkan katagorinya, ada sepuluh jenis benda cagar budaya yang tersimpan di sana. Beberapa di antaranya adalah benda dari bahan kuningan. Yang termasuk dalam katagori ini, umumnya merupakan hasil produksi pada masa Sultan Muhammadsyah (1832-1841), contohnya: paha (tempat meletakkan makanan atau lauk pauk), keto (tempat membuang ludah), tepak sirih, sanggan, sangku (tempat cuci tangan), embat-embat (tempat wewangian) dll.
Museum Linggam Cahaya (1)
- 19 November 2012

Menapaktilasi Jejak-jejak Sejarah di Lingga
Kalau Anda penyuka museum atau menggemari sejarah daerah, mengunjungi Museum Linggam Cahaya adalah pilihan tepat. Dari museum inilah, Anda bakal beroleh informasi aktual tentang perjalanan panjang Kerajaan Lingga, melalui peninggalan benda-benda bersejarah yang masih tersimpan dan terjaga kelestariannya.
Benteng Bukit Cening (3)
- 17 November 2012

Menapaktilasi Jejak-jejak Sejarah di Lingga
Menuju ke Benteng Bukit Cening, Anda bisa menggunakan mobil atau sepeda motor. Dari pusat kota, bisa ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit. Jarak sesungguhnya dari kawasan kota ke Bukit Cening hanyalah berkisar lima kilometer saja. Cukup dekat.
Benteng Bukit Cening (2)
- 16 November 2012

Menapaktilasi Jejak-jejak Sejarah di Lingga
Sebagian meriam lainnya, ada yang bertuliskan VOC. Ada pula yang bertuliskan tahun 1783. Ukurannya juga beragam, tapi dipercaya merupakan buatan Belanda dan sebagian made in Portugese. Adapun soal penamaannya, ahli sejarah lokal menyebut bahwa di antara meriam-meriam itu ada yang disebut dengan panggilan Meriam Puyuh Putih.
Benteng Bukit Cening (1)
- 14 November 2012

Menapaktilasi Jejak-jejak Sejarah di Lingga
Sebanyak 19 meriam tersusun rapi di atas bantalan semen berukuran kira-kira setengah meter. Sebagian menghadap ke arah Utara, sebagian lagi menghadap ke sisi Timur. Kendati telah berumur ratusan tahun, kondisinya masih baik dan utuh. Sebagian di antaranya bahkan, masih meninggalkan jejak berupa ukiran berwujud tulisan tahun pembuatan serta lambang pemilik di bagian pangkal batang meriamnya.
Soedjatmiko, Tangan Dingin di Periode Perintisan
- 13 November 2012

Tahun 1958, Soedjatmiko yang kala itu berpangkat mayor diberi mandat lebih berat yakni menjadi Komandan Pangkalan Udara Kalijati. Tak lama sesudahnya, diangkat menjadi Komandan Pangkalan Udara Adi Sucipto. Memasuki tahun 1961, ia dikirim oleh AURI menempuh pendidikan Sekolah Komando (SESKO) di Andover, Inggris hingga tahun 1962. Lepas itu, pria kelahiran Tuban ini dipercaya menjadi Panglima Komando Daerah Udara I Sumatera dan akhirnya saat berpangkat marsekal muda, ditunjuk menjadi Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional.
Legenda Batu Kapal (2)
- 12 November 2012

