Jumat09152017

Last update05:00:00 AM

Back Jejak

Jejak

Legenda Batu Kapal (1)

Jika Anda tengah bertandang ke Kabupaten Natuna dan ingin menikmati objek wisata alam yang sedikit berbeda, datanglah ke Batu Kapal. Di sana Anda bisa menikmati indahnya panorama alam berupa batu-batu granit tinggi menjulang berbagai bentuk. Unik sekaligus penuh misteri. Lokasi Batu Kapal tepat di pinggir jalan besar, terlihat jelas karena bentuknya yang besar dan persis menyerupai kapal. Hanya berjarak sekitar tiga kilo meter dari Kota Ranai dan bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua atau empat. Jalan menuju ke sana pun sangat mudah.

Kepala Naga Bernama Nagoya

Sejak kebakaran Jodoh yang kedua, aktifitas pasar Jodoh perlahan mulai dialihkan ke Nagoya, tepatnya di Pasar Nagoya lama, kini lokasi gedung Hotel Nagoya Plaza. Di tempat ini, meski pasarnya masih sederhana, namun sudah cukup ramai dikunjungi warga untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari. Warga Tionghoa yang selama ini menempati Pasar Jodoh, sedikit demi sedikit sudah mulai pindah ke Nagoya.

Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (8)

Menurut keterangan Ong Sin Tek (Les Lie), salah satu keturunan Gan Bang Tong, pada eranya, Gan Bang Tong adalah salah satu saudagar kaya di Tarempa. Ia adalah pedagang hasil bumi seperti karet dan kopra yang pada masa kolonial Belanda menjadi komoditas primadona Tarempa. Hasil bumi itu oleh Gan Bang Tong diangkut menggunakan kapalnya sendiri lalu dijual ke Singapura.

Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (7)

Makam Gan Bang Tong

Di Tarempa terdapat banyak pemakaman Tionghoa yang berusia tua dan tersebar di beberapa titik yang bisa Anda napaktilasi. Satu di antaranya adalah makam Gan Ban Tong yang berada di Kampung Baru. Dari tulisan beraksara Cina yang tertulis di nisannya diperoleh data pasti bahwa makam itu telah ada sejak tahun 1909.

Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (6)

Sementara itu, di area dalam, terdapat dua buah kamar besar berukuran 7M x 3M serta sebuah ruang keluarga yang luas. Di sebelah kanan depan, terdapat satu lagi ruang kamar berukuran 3M x 2M yang dulunya difungsikan sebagai ruang praktek pengobatan bagi warga yang sakit.

Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (5)

Kerusakan kecil memang terlihat di sana-sini. Tetapi secara keseluruhan, bangunan ini masih layak huni. Bagian yang rusak di antaranya adalah atap sengnya yang rapuh di beberapa sudut. Beberapa bilah papan yang difungsikan sebagai lantai, terlihat telah melapuk. Sementara cat di dinding papan bagian luar, yang dulu berwarna asli kuning, telah berganti warna menjadi pucat dan agak kusam.

Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (4)

Setiap tahun, untuk mengenang arwah para penduduk yang gugur, sebagian warga Tionghoa di Tarempa datang menziarahinya. Masyarakat sekitar pun telah sepakat untuk mempertahankan keberadaan tugu tersebut dengan tidak membangun rumah atau tempat tinggal di atas areal tugu.

Heritage Walk: Menyusuri Tugu, Rumah & Makam Tua di Tarempa (3)

Serangan itu kembali diulang pada tanggal 19 Desember 1941 yang diikuti oleh pendaratan pasukan Angkatan Laut Jepang pada tanggal 24 Januari 1942. Akibat serangan gencar ini, banyak penduduk yang terbunuh. Catatan yang ada menyebut, setidaknya ada 300 orang lebih yang tewas, 40 luka-luka dan 150 lainnya, jasadnya tidak bisa dikenali.