Pernyataan Amran tersebut diperkuat dengan data dari pemerintah pusat dimana menyatakan, setiap detik negara kita kehilangan berhektare-hektare lahan pertanian yang telah berubah dan diperuntukkan sebagai pabrik, perumahan, area pertanian kelapa sawit dan lainnya.
"Sehingga demikian potensi sagu sangat besar untuk dijadikan sebagai cadangan ketahanan pangan secara nasional. Di samping itu pula mampu diolah menjadi makanan tambahan yang kaya akan gizi," ujar Amran, Minggu (24/3).
Ia mengatakan, memang sagu belum masuk 13 bahan pangan di Indonesia seperti beras, jagung, umbi-umbian, unggas, sapi, kedelai, telor dan lainnya. Namun dengan alasan di atas maka dipastikan sagu sangat cocok dan potensinya di Indonesia khususnya di Kabupaten Karimun cukup besar. Karena hampir disetiap pulau di Kabupaten Karimun memiliki struktur tanah yang cocok ditanami pohon sagu.
Menurut Amran, sagu akan mampu bertahan jika suatu waktu nanti terjadi masalah dalam penyediaan pangan. Dicontohkan Kadistanhut ini, bahwa bencana alam mampu merusak tanaman padi yang menjadi sumber makanan pokok negara Indonesia. Sedangkan sagu tidak mudah rusak dalam kondisi apapun.
"Jadi ini salah satu alasan kenapa kita memasukkan sagu sebagai bahan makanan cadangan nasional dan masyarakat Kabupaten Karimun perlu mensukseskan ini. Apa lagi khusus di daerah kita tidak berada pada lokasi rawan bencana. Sehingga sangat mudah dan cocok untuk pengembangan sagu," jelasnya.
Untuk itu Amran menghimbau bagi pemilik lahan hutan rumbia agar tidak menebangnya. Bahkan jika sudah ada perlu dikembangkan lagi atau tidambah. Dengan hal ini bukan berarti menghambat perkembangan tanaman padi, namun perlu dipikirkan anak cucu kita kelak. Perekembanagn tanaman sagu pun dinilai sangat mudah untuk dirawat.
Disamping itu pula, batang sagu cukup banyak dicari oleh masyarakat dari Selat Panjang-Riau dan mereka sanggup membayar mahal harga pohon sagu, yakni per batang Rp400 ribu.
"Saya masih berpikir dan melakukan percobaan untuk meneliti apakah lahan yang digenangi air asin (air laut) cocok ditanami sagu atau tidak. Karena lahan kita saat ini masih cukup luas," ucap Amran.
Adapun luas lahan yang berpotensi di Kabupaten Karimun untuk ditanami sagu mencapai 200 hektare. Dengan titik atau lokasinya terdapat di Kecamatan Kundur Barat dan Kecamatan Ungar (Alai).
Untuk menghasilkan batang sagu yang baik kata Amran, sangat cocok jika pengembangannya dilakukan dengan cara ditanam dari biji (penyemaian). Hal itu berdasarkan pengalaman salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan tanaman sagu di Selat Panjang-Riau, dengan cara penyemaian atau memanfaatkan biji sagu. Dengan tingkat keberhasilan mencapai 90 persen. Sedangkan pengembangan menggunakan abut (anak dari tunas batang sagu) hanya berhasil berkembang dari 35 persen hingga 60 persen dan itu sudah maksimal.(bersambung).(gan)
- IRT di Karimun Sudah Pandai Ciptakan Resep Baru
- Anwar Hasyim Mundur Dari Jabatan Sekda Karimun
- Warga Karimun Tolak Pendirian Tower
- Hutan Bakau Tak Boleh Dijual
- Penangkaran Walet Tak Berizin di Karimun Menjamur
- Basarnas Beri Pelatihan kepada Pelajar Karimun
- Kapal Muatan Pasir Timah Tenggelam di Karimun
- Air Bersih Tidak Dianggarkan di APBD Karimun




