Kardi, salah seorang nelayan Pulau Setunak kepada Haluan Kepri, Rabu (3/4) mengatakan, belasan kapal isap produksi, menjadi mitra PT Tambang Timah Kundur yang melakukan ekpsploitasi bijih timah di perairan Kundur dan Karimun telah menggangu lokasi tangkap nelayan tradisional.
"Keberadaan kapal-kapal isap tersebut memang sudah menggangu kami, karena mereka beraktivitas di sekitar kawasan tangkap kami. Bukan hanya mengganggu, namun aktivitas tambang itu juga mengakibatkan lautan jadi keruh dan ikan banyak yang mati. Kalaupun ada sangat sulit untuk didapatkan," kata Kardi.
Menurutnya, memang pemilik kapal isap timah tersebut memberikan kompensasi kepada puluhan nelayan yang tinggal di Pulau Setunak dan Pulau Kenipan. Namun, sudah dua bulan ini mereka tidak menerima kompensasi lagi dari pihak perusahaan. Untuk itulah, mereka meminta kepada perusahaan agar kembali merealisasikan janjinya kepada nelayan.
Bukan hanya nelayan Setunak, nelayan Desa Gemuruh juga ada mengeluhkan, kalau pekerja di kapal isap timah tersebut pernah memotong jaring nelayan yang tersangkut kapal isap ketika mereka tengah melakukan aktivitas penambangan. "Saya pernah dengar ada nelayan yang melaporkan jaring mereka dipotong oleh orang kapal isap saat tersangkut kapal," ujar nelayan yang namanya enggan ditulis.
Sementara, Ketua Umum Lembaga Masyarakat Kelautan dan Perikanan Karimun (LMKPK) Rasyid Tab dengan tegas menolak operasi kapal isap produksi (KIP) yang menjadi mitra PT Tambang Timah di kawasan tangkapan nelayan tradisional yang tidak mendapat persetujuan dari nelayan tradisional tersebut.
"Keberadaan kapal-kapal isap yang menambang bijih timah itu jelas merugikan nelayan tradisional, karena sejak keberadaan kapal tersebut laut yang kawasan tangkap nelayan jadi keruh. Nelayan yang selama ini mengandalkan ikan di pinggir pantai tak bisa lagi mengharapkan tangkapan yang cukup lagi," kata Rasyid Tab.
Untuk itulah, katanya, jika memang selama kapal isap tersebut beroperasi tidak pernah mendapat persetujuan dari nelayan yang biasa menangkap ikan di sekitar perairan Karimun dan Kundur, maka sebaiknya kapal isap tersebut hengkang dari kawasan tangkap nelayan. "Daripada keberadaan kapal isap itu merugikan nelayan, lebih baik menjauh saja dari kawasan tangkap nelayan," tandasnya. (ham)
- BBM di Kundur Langka
- Kundur Banyak SDM Berkualitas
- Pemprov Kepri Kekurangan 937 Pegawai
- Sengketa Tambang Dilaut, Mayarakat Bisa Gugat Bupati Karimun
- Kakek 70 Tahun di Karimun Tewas Gantung Diri
- Kuntum Diperkosa di Kebun Singkong di Kundur
- Pawai Ta'aruf Meriahkan Rangkaian Acara MTQ Karimun
- Durai Bangun Jalan Lingkar




