Ekonomi Bisnis

Rupiah Melemah, Pembayaran Bunga Utang Terancam Bengkak

JAKARTA (HK)- Pemerintah tengah menghitung dampak pelemahan rupiah pada pembayaran bunga utang. Hingga Maret 2018, pemerintah telah membayar bunga utang sebesar Rp68,46 triliun atau 28,69 persen dari anggaran sebesar Rp238,61 triliun di tahun ini. Kemarin, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak melemah tipis sebesar satu poin menjadi Rp13.923 dibanding posisi sebelumnya Rp13.922 per dolar AS.
Direktur Strategi dan Portfolio Utang Kementerian Keuangan, Schneider Siahaan menuturkan hingga kini pihaknya masih menghitung secara cermat efek dari nilai tukar rupiah terhadap biaya utang. Pasalnya, saat ini nilai tukar rupiah berada berada di kisaran Rp13.900, jauh di atas asumsi rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar Rp13.400 per dolar AS.

"Saat ini kami masing mengkalkulasi efek kurs. Pembayaran kewajiban (bunga utang) sendiri tersebar dari awal tahun hingga akhir tahun. Nanti setelah realisasi semester satu baru akan lebih mudah menghitungnya," ujar Schneider,  Kamis (26/4).

Pada perdagangan di pasar spot hari ini, rupiah dibuka menguat tipis 2 poin ke level Rp13.919 per dolar AS. Berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, nilai tukar rupiah sejak Februari hingga saat ini tak pernah berada di bawah Rp13.400 per dolar AS.

Kementerian Keuangan sendiri mencatat pada kuartal pertama tahun ini atau hingga akhir Maret 2018, pembayaran bunga utang pemerintah mencapai Rp68,46 triliun atau 28,69 persen dari anggaran sebesar Rp238,61 triliun di tahun ini.

Hingga Maret 2018, total utang pemerintah mencapai Rp4.136,39 triliun, naik 13,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp940,68 triliun berdenominasi valuta asing (valas).

Selain dapat terdampak kurs secara langsung pada utang dalam dolar AS, pelemahan rupiah mulai berdampak pada imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) yang mulai naik. "Ada kenaikan yield SBN tenor 10 tahun pada lelang kemarin,"katanya.

Pada lelang 24 April kemarin, yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk SBN tenor 10 tahun sebesar 6,91 persen, naik dibandingkan saat lelang pada 10 April lalu sebesar 6,59 persen. Kenaikan yield membuat pemerintah akhirnya hanya memenangkan Rp6,15 triliun dari target indikatif Rp17 triliun dalam lelang 24 April lalu.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual menilai pelemahan rupiah akan berpengaruh pada pembayaran bunga utang. Pasalnya, pelemahan rupiah hingga level tertentu dapat membuat yield SUN menanjak. Namun, ia menilai yield SBN saat ini masih aman.

"Yield SBN saat ini masih oke. Kemarin juga investor sempat masuk di SBN," terang dia.

Kendati demikian, ia menyarankan pemerintah untuk melakukan perubahan pada APBN 2018. Pasalnya, selain nilai tukar rupiah yang sudah berada jauh di atas asumsi, asumsi harga minyak juga meleset cukup jauh. (cnn/net)



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar