Ekonomi Bisnis

BI Buka Ruang Naikkan Suku Bunga Acuan

JAKARTA (HK)- Bank Indonesia (BI) membuka ruang untuk menaikkan suku bunga acuan BI (7 Days Reverse Repo Rate/7DRRR). BI menahan posisi bunga acuan sebesar 4,25 persen sejak terakhir kali pada September 2017.
Gubernur BI, Agus DW Martowardojo mengatakan ruang kenaikan suku bunga acuan dibuka bila memang pergerakan ekonomi ke depan mengharuskan untuk melakukan penyesuaian tersebut.

Misalnya, terlihat dari bagaimana kondisi nilai tukar atau kurs rupiah ke depan, apakah nantinya akan mengganggu laju inflasi dan kestabilan sistem keuangan Tanah Air ke depan atau tidak. "BI tak menutup ruang kenaikan suku bunga BI 7DRRR, kebijakan ini dilakukan dengan berhati-hati dan mengacu perkembangan terkini dan perkiraan ke depan," ujarnya di kantornya, Kamis (26/4).

Kendati begitu, Agus belum ingin memberikan kepastian kapan kenaikan suku bunga acuan dilakukan. Pasalnya, ia bilang, BI perlu terus memperketat monitoring terhadap kondisi ekonomi global dan domestik lebih lanjut.

Selain membuka ruang bagi kenaikan 7DRRR, Agus bilang, BI turut melakukan beberapa hal. Pertama, BI akan selalu ada di pasar untuk menjalankan fungsinya menjaga stabilitas sistem keuangan. "BI akan lakukan stabilisasi di pasar valuta asing dan surat berharga negara guna mengatasi depresiasi berlebihan. Ke depan, BI dengan tetap menjaga fundamental ekonomi dan menjaga rupiah," katanya.

Kedua, BI akan memantau terus ketersediaan likuiditas di pasar uang, baik dari sisi pasokan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah. Ketiga, BI akan menyiapkan garis pertahanan lain dengan negara mitra utama untuk bisa menyiapkan kerja sama antar bank sentral untuk jaga stabilitas mata uang antar negara.

Agus kembali menegaskan pelemahan rupiah saat ini merupakan dampak dari kondisi ekonomi global, terutama dari AS, dan hal ini berdampak ke semua negara, tidak hanya Indonesia. "Penguatan dolar AS adalah dampak dari kelanjutan penguatan suku bunga obligasi AS (US Treasury) hingga mencapai 3,30 persen, itu tertinggi sejak 2013," tutur nya.

Selain itu, depresiasi rupiah juga terkait dengan situasi musiman, seperti peningkatan permintaan valas untuk pembayaran utang luar negeri, pembiayaan, impor, dan pembayaran dividen.

Ia menegaskan pelemahan rupiah tidak terjadi sendiri. Negara-negara di kawasan Asia juga disebut melemah. Tercatat, secara bulan berjalan (month to date/mtd) dari 1-26 April 2018, rupiah terdepresiasi hingga -0,88 persen.

"Depresiasi rupiah masih lebih rendah dibandingkan depresiasi mata uang negara lain, seperti baht Thailand -1,12 persen, ringgit Malaysia -1,24 persen, dolar Singapura -1,17 persen, won Korea -1,38 persen, dan rupee India -2,4 persen," jelasnya.

Di sisi lain, Agus juga menekankan bahwa fundamental ekonomi masih baik. Misalnya terlihat dari inflasi masih di kisaran 3,5 persen, defisit transaksi berjalan (Currenct Account Deficit/CAD) lebih rendah dari batas aman 3 persen dair Produk Domestik Bruto (PDB).

"Momentum pemulihan ekonomi berlanjut dengan makro ekonomi dan sistem keuangan yang baik. Kepercayaan terhadap Indonesia baik, terbukti dari perbaikan rating dari Moody's dan Fitch Ratings kepada Indonesia," pungkasnya. (net/cnn)



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar