Memasuki Perairan Indonesia Tanpa Izin

Kapal Berbendera Afrika Ditangkap Lanal Batam

BATAM (HK) - Kapal motor berbendera negara Afrika Timur ditangkap Tim WFQR Lanal Batam karena memasuki perairan Indonesia tanpa izin. Kapal bermerek "Phyllis SC4471J" itu diketahui sedang membawa sayur, minuman, dan daging babi ke Kota Batam. Barang-barang tersebut dipasok tanpa dilengkapi dokumen resmi.

Panglima Koarmabar I, Laksamana Madya TNI Yudo Margono menerangkan, pihaknya sudah menangkap kapal motor asing berbendera Afrika Timur, yang masuk perairan Indonesia tanpa izin. "Saat diperiksa, ditemukan beberapa dokumen kapal dari beberapa negara. Namun dokumen tersebut semuanya sudah kadaluwarsa," kata Yudo Margono, saat ekpose kapal, Jumat (27/7).

Selain kapal tersebut, ungkap Yudo, pihaknya juga mengamankan 3 anak buah kapal (ABK) dan 1 orang nahkoda. "Anehnya, awak kapal mengaku bahwa kapal mereka itu milik orang Singapura dan banyak keganjilan lain saat dilakukan pemeriksaan," ujar Yudo.

Selain itu, imbuh dia,  semua ABK berasal dari negara Myanmar, sehingga menjadi lebih mencurigakan, termasuk barang yang dibawa. "Karena sudah melanggar, dan mencurigakan, makanya kapal asing ini kami giring ke Mako Lanal Batam untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut," papar Laksma Yudo.

Sementara Danlanal Batam, Kolonel Laut (E) Iwan Setiawan menambahkan untuk menjawab kecurigaan itu, anggota Lanal membawa mereka menjalani tes urine. "Dan hasilnya, ternyata nahkoda kapal positif menggunakan metametamin alias narkotika jenis sabu," sebut Kolonel Iwan.

Selain itu, ungkapnya, pihaknya juga menggunakan anjing pelacak untuk memeriksa kapal. Tetapi tidak ditemukan narkoba. "Pengakuannya, mereka itu hanya menyuplai makanan di tengah laut (OPL). Namun, kami masih selidiki dulu lebih lanjut," ujarnya.

Iwan mengungkapkan, pihak penyidik di Lanal sudah mengirimkan Surat Perintah Dimulainya Pemeriksaan (SPDP), kepada Kejaksaan. "Sebab, kami nggak mau berlama-lama dalam melakukan proses pemeriksaan. Dari itu, kami telah mengirimkan SPDP ke pihak kejaksaan," imbuhnya.

Dalam penanganan kasus pelanggaran daerah teritorial ini, ucap Kolonel Iwan, para tersangka akan dijerat dengan Pasal 284 Nomor 2 Tahun 2018, tentang pelanggaran di wilayah perairan Indonesia. "Ke 4 ABK KM Phyllis SC4471J ini, akan dijerat dengan UU Pelayaran RI Pasal 284 No 2 Tahun 2018 dengan ancaman hukuman Maksimal 5 tahun penjara," pungkas Kolonel Iwan. (vnr)




[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar