Karimun

Sekeluarga Jaga Pulau Terdepan

Anggota DPR RI, Dwi Ria Latifa bersama keluarga Abun, keluarga yang menghuni Pulau Karimun Anak, pulau terdepan Indonesia.

KARIMUN (HK)-Satu keluarga hidup turun temurun mendiami Pulau Karimun Anak, pulau terdepan Indonesia. Keluarga itu telah beranak pinak, sekarang jumlahnya mencapai 49 jiwa. Adalah Abun (67) bersama istri, 6 anak, 13 cucu dan 28 cicit. Hidup terasing di pulau kecil. Keluarga ini merupakan penjaga beranda Indonesia.

Abun dan keluarganya merupakan masyarakat suku asli atau Suku Mantang. Keluarga ini sudah beranak pinak menjadi 12 kepala keluarga (KK). Mereka tersebar di dua titik berbeda, yakni di sebelah barat pulau yang disebut Alor Besar dan sebelah timur yang dinamai Pegamai. Mata pencaharian mereka sebagai nelayan, yang menggantungkan hidup dari hasil laut, sebagai nelayan tradisional.

"Saya adalah generasi keempat, sejak nenek moyang kami mendiami pulau ini beberapa abad yang lalu. Kami disini satu keluarga. Anak-anak saya menikah dan semuanya tinggal disini. Kami yang menjaga Pulau Karimun Anak ini," ungkap Abun saat menerima kunjungan anggota Komisi II DPR RI, Dwi Ria Latifa bersama unsur pimpinan Kecamatan Tebing, Jumat (3/8) lalu.

Pulau Karimun Anak berada di depan Pulau Karimun Besar. Dari kejauhan berbentuk seperti gunung di tengah lautan. Pulau ini termasuk dalam gugusan Kepulauan Karimun. Bervegetasi lebat dan berpantai bebatuan dengan luas sekitar 8 kilometer persegi, dengan panjang garis pantai sekitar 13,2 kilometer. Batuan yang terkenal di pulau ini adalah Batu Goa dan Batu Sekodi Kain.

Pulau Karimun Anak berada di Dusun Pelambung, Desa Pongkar, Kecamatan Tebing. Pulau ini persis terletak di depan Selat Malaka atau berhadapan dengan negara Malaysia. Untuk mencapai Pulau Karimun Anak, bisa menaiki Pompong (perahu kecil bermesin tempel) dengan jarak tempuh sekitar 30 menit dari pelantar Dusun Pelambung.

Abun dan keluarganya tinggal di gubuk kayu. Masing-masing kepala keluarga mendiami satu gubuk. Tak ada listrik disana. Mereka hidup sebagai nelayan. Anak-anak mereka rata-rata hanya tamatan sekolah dasar (SD). Hanya satu orang cucunya, Edison yang berhasil mengenyam pendidikan menengah. Dia berhasil lulus SMKN 1 Karimun. Meski sudah tamat sekolah, namun Edison masih belum bekerka.

Meski hidup terpencil dan memiliki pendidikan rendah, namun rasa cinta terhadap negeri ini sangat kuat terpatri dalam keluarga tersebut. Rasa cinta dan patriotisme itu dibuktikan dengan dipasangnya bendera merah putih diantara gubuk reot mereka. Merah putih itu nampak terlihat jelas berkibar dari kejauhan.

"Bendera ini sudah kami pasang sejak tanggal 1 Agustus kemarin. Bendera ini memang terlihat usang, karena hanya ini yang kami punya. Kalau mau beli yang baru mana ada uang. Kami tak pernah diminta untuk mengibarkan bendera merah putih. Bendera ini kami pasang setiap bulan Agustus, hari kemerdekaan Indonesia," tutur Abun.

Anggota DPR RI, Dwi Ria Latifa saat mengunjungi keluarga Abun, penjaga Pulau Karimun Anak itu mengatakan, kehidupan Abun dan keluarganya cukup memprihantikan. Mereka hidup terasing dan jauh dari hiduk pikuk kehidupan kota. Keluarga ini hanya makan seadanya. Gubuk mereka tak ada penerangan, karena diada dialiri listrik.

"Kehidupan keluarga ini cukup memprihatinkan. Ini perlu difikirkan secara sistemik, bukan membantunya dalam konsep indisentil. Bagaimana kita menata tempat ini supaya mereka juga punya kehidupan yang layak. Saya fikir ini harus difikirkan dalam program ke depan, supaya mereka punya harapan hidup yang lebih baik, mulai dari kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan mereka," ujar Dwi Ria Latifa.

Kata Ria, meski hidup dalam keterasingan, namun dia merasa bangga ketika mendengar salah seorang cucu Abun, Edison yang bisa menamatkan sekolah sampai SMK. Walau dengan perekonomian seadanya. Alat transportasi yang tidak memadai, pergi sekolah dengan menantang maut. Namun, dengan semangat yang pantang menyerah, Edison mampu menyelesaikan sekolahnya.

"Kita tahu kehidupan keluarga ini sangat pas-pasan. Hidup dengan serba kekurangan, bahkan terasing di pulau terpencil seperti ini. Alhamdulillah, salah seorang cucu beliau yang bisa menamatkan sekolah di SMKN 1. Walau sekolah tak ada biaya, alhamdulillah dia dibantu oleh Pemkab Karimun melalui beasiswa," terang Ria.

Ria berpesan kepada Edison, karena dia satu-satunya dari keluarga Abun yang berhasil menamatkan sekolah hingga SMK, maka harapan keluarga itu ada di pundak Edison. Dia harus keluar dari Pulau Karimun Anak. Pergi merantau ke Pulau Karimun dan mencari pekerjaan yang layak agar bisa membantu kehidupan keluarga besarnya di Karimun Anak.

Dwi Ria Latifa bertandang ke Karimun Anak tidak sendiri. Politisi kelahiran Tanjungbalai Karimun itu datang bersama Camat Tebing Agung Jati Kusuma, Kapolsek AKP Budi Hartono, Danramil Kapten ARH Agus Salim, Kepala Puskesmas Muhammad Aristo Wibowo dan Kades Pongkar, Zahir. Rombongan ini menyalurkan paket sembako kepada Abun dan keluarganya. Petugas medis Puskesmas Tebing juga memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma. (ham)




[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar