Tajuk

Masuk dalam Politik Praktis

Sejumlah kepala desa (kades) di Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA) mengundurkan diri dan ramai-ramai ikut bursa calon legislatif (caleg). Seperti yang diberitakan media ini, kemarin, tidak hanya kades, ada juga dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD) juga ikut-ikutan mencalonkan diri menjadi wakil rakyat.

Tak pelak, fenomena itu membuat masyarakat kaget tidak terkecuali Wakil Ketua Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Anambas. Dia sampai mengimbau agar kades jangan berpolitik praktis dalam pemilihan legislatif (pileg) tahun 2019 mendatang. Langkah ini dilakukan untuk menjaga netralitas pada pemilihan wakil rakyat nanti.

Dunia politik sejak adanya pemilihan langsung hinga saat ini, banyak menggoda orang untuk ikut berkecimpung di dalamnya. Tidak hanya mereka yang telah mengambil jalur politik dari dulu-dulunya, namun berbagai kalangan pun ikut tergoda. Jadi tidak heran, berbagai elemen banyak ikut dalam setiap pemilihan legislatif yang digelar. Berdasarkan data yang dihimpun, sekitar lebih 2000 orang di Kepri mendaftarkan diri untuk bertarung dalam pemilihan legislatif pada 2019 nanti untuk memperebutkan DPRD kota, kabupaten, provinsi, DPR RI, dan DPD.

Apa yang terjadi di Anambas, merupakan salah satu contoh nyata saat ini. Di daerah lain, hal yang sama mungkin juga terjadi. Menjadi wakil rakyat memang sebuah tantangan tersendiri bagi mereka yang minat. Ada banyak hal yang dapat dilakukannya. Yang pasti apa menjadi kerja nanti adalah semua hal yang berkaitan dengan segala tindakan politik yang berdampak pada masyarakat dan pemerintah.

Masuk dalam politik praktis bagi sebagian orang merupakan langkah cepat untuk memenuhi keinginan dirinya. Apalagi dalam masa seperti sekarang. Ada kendaraan politik, skill, apalagi finansial, sudah menjadi modal.

Namun, yang perlu diingat, untuk menjadi seorang wakil rakyat tentu tidak hanya mengandalkan elemen yang disebutkan di atas. Ada hal utama yakni pemikiran yang cerdas, solutif, dan mampu beradaptasi secara baik dengan seluruh kalangan. Dalam bahasa sederhana, ada kematangan, baik fisik, mental, pendidikan, jiwa, dan finansial. Sebab, berada dalam lingkaran politik apalagi wakil rakyat, ada sebuah pengabdian. Mencurahkan tenaga, pikiran, waktu, termasuk finansial, untuk masyarakat yang diwakili.

Karena itu, wajar jika banyak masyarakat yang memberi pandangan, kalau belum siap secara utuh untuk masuk dalam politik praktis, jangan memaksakan diri. Mengabdi untuk masyarakat tidak mesti berada di lembaga legislatif. Sangat banyak lembaga dan aktifitas lain yang dilakukan untuk pengabdian itu. Jangan melihat senangnya menjadi wakil rakyat. Tapi lihat juga beban dan tanggungjawab yang meski dipikul. ***



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar