Manager Kabur ke Luar Negeri

PT Nagano Tutup Total

PT Nagano Drilube Indonesia yang beralamat di kawasan Industri Batamindo, Mukakuning.

MUKA KUNING (HK)- PT Nagano Drilube Indonesia yang beralamat di kawasan Industri Batamindo, Mukakuning resmi menutup total operasionalnya, Rabu (12/9).

Manajer perusahaan yang bertanggungjawab dalam pengelolaan diketahui telah kabur ke Jepang. Para karyawan yang mengetahui kejadian itu mencoba menyurati pihak Jepang melalui email. Namun tak ada jawaban. Saat ini terdapat 54 buruh yang hak-haknya belum diselesaikan. Mereka memilih menahan aset perusahaan secara bergantian. Aksi itu dilakukan sampai hak-hak mereka dibayarkan.

Adapun jenis aset yang diamankan itu berupa mesin produksi lapisan logam. Para pekerja yang rata-rata single parents itu tampak berjaga-jaga di luar perusahaan. Bahkan, mereka tak segan-segan membuka dapur umum di lokasi perusahaan, untuk memenuhi kebutuhan harian mereka. Saat mereka berjaga-jaga aliran listrik diputus oleh pihak Batamindo.

Nursani, salah  seorang karyawan perusahaan tersebut menceritakan, awalnya pada Selasa (4/9) mereka diberitahukan bahwa akan ada 5 orang yang dirumahkan. "Kami tak tahu apa yang terjadi. Bahkan sekuriti yang masuk siang juga disuruh pulang, dan kami lihat listriknya dipadamkan," jelasnya.

Pada saat bersamaan , pelanggan PT Sindo Metal dan SIIX kemudian mengambil material milik perusahaan.

Tidak hanya pekerja, pihak suplier juga datang untuk meminta sisa tagihan utang perusahaan. "Kami bingung nasib kami bagaimana ini," ucapnya.

Ketua PUK PT Nagano Drilube Indonesia Sari Hastuti mengatakan sebelumnya ia masih bekerja seperti biasa. Bahkan ia sempat disuruh libur. Namun ketika hendak masuk kerja, orang-orang di perusahaan sudah tak ada lagi. "Kami tahu, sudah tak ada lagi produksi. Padahal selama ini tak ada masalah diperusahaan ini, dan gaji bulan Agustus lalu masih lancar kita terima," tambahnya.

Memang, sejak  2014 silam, pengurangan pekerja sudah dilakukan. Bahkan sampai saat ini hanya 54 orang yang tersisa. "Kami sekarang ini jaga aset ini sebagai jaminan kami apabila tak dibayar gaji kami dan tak peduli lagi," ujarnya.

Owner perusahaan Jepang ini diketahui bernama Futakata San. Berdiri sejak tahun 1996 silam.

Sari Hastuti juga berharap agar pihak perusahaan bisa membayar hak-haknya bila perusahaan ini tutup selamanya. "Ya harapan kami perusahaan bisa membayarkan hak-hak kami. Kami pun sudah pasrah bila memang perusahaan ini tutup," harapnya.

Terpisah, Kepala Disnaker Kota Batam, Rudi Syakiarti mengatakan 54 karyawan Nagano belum menerima hak-haknya. "Harusnya kan terima bulan ini. Untuk melunasi gaji karyawan membutuhkan biaya Rp 292 juta," sebut dia.

Berdasarkan informasi dari bagian kepegawaian perusahaan, selama ini gaji karyawan dibayar bersumber dari perusahaan di Jepang. "Seperti subsidi begitulah. Karena produksi di sini juga tak terlalu banyak," ujarnya.

Ia menjelaskan pihaknya masih menunggu kepastian dari induk perusahaan di Jepang. Bahkan pihaknya sudah menggelar rapat bersama karyawan dan serikat pekerja untuk mencari solusi terkait nasib karyawan tersebut. "Karyawan tak tahu apakah perusahan sudah berhenti beroperasi atau seperti apa. Gak jelas statusnya. Hasil rapat kami juga akan minta bantuan pemerintah pusat untuk mencari kejelasan," beber Rudi.

Dalam waktu dekat, Rudi berharap ada kejelasan terkait nasib puluhan karyawan PT Nagano ini. "Sabtu kemarin saya  sudah menemui mereka. Semoga secepatnya ada solusi," tutupnya. (ded)




[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar